Gimana sih... sinetron di Indonesia itu ?

Gak hanya saya, ternyata banyak orang di sekitar saya yang merasakan hal yang sama. Lalu, bagaimana dengan Anda? Itu loh... tentang sinetron di negeri kita ini. Apakah sinetron-sinetron tersebut benar-benar baik ditonton? Padahal, sekarang kan lagi jamannya tontonan jadi tuntunan, yang kadang mengakibatkan kita melupakan harga diri. Tul gak ?

Nah... ngomong-ngomong soal sinetron, pagi ini saya baru saja membuka website resmi Komisi Penyiaran Indonesia, alias KPI. Kebetulan di website itu ditampilkan banyak sekali keluhan tentang sinetron di Indonesia. Wah... benar kan ? Coba aja yuuk kita simak aduan dari Bapak Ir. Edy Ervianto, MT yang seperti ditampilkan di website KPI. Beliau adalah salah satu dosen di Universitas Riau, Pekanbaru.


Inilah preview aduan tersebut di website KPI


Tayangan Sinetron

Ir. Edy Ervianto, MT, Riau


Sinetron merupakan tayangan TV yang sudah mewabah di republik tercinta ini. Hampir seluruh stasiun televisi berlomba-lomba mengejar rating siarannya melalui sinetron ini. Seiring dengan itu bisnis sinetronpun berlomba-lomba menghasilkan karyanya secara instan untuk mengejar pasar. Tanpa disadari perlombaan inipun akhirnya menyeret mereka-mereka berprilaku “menghalalkan segala cara” dan jiplak-menjiplak dari tayangan luar negeripun jadi tak terelakkan, yang penting “target uang” tercapai.

Tetapi terlepas dari itu semua, apakah bapak-bapak di KPI tidak merasa bahwa tayangan sinetron di TV-TV kita sekarang ini sudah sedemikian jelek pengaruhnya ke moral generasi muda kita ???.. Menjadi alat untuk “PEMBODOHAN BANGSA” ??? … Yang saya maksudkan dengan sinetron disini adalah tayangan cerita serial yang episodenya bersambung-sambung ( bukan serial dengan cerita lepas ) yang penayangannya untuk setiap judul bisa berbulan-bulan bahkan tahunan.

Pada sinetron-sinetron tersebut apapun ceritanya maka yang dipertontonkan umumnya tetap seputar “angkara murka” seperti benci-membenci, marah-marahan, fitnah-memfitnah, rebutan harta/warisan, rebutan cewek/cowok, balas dendam, tipu-menipu, bunuh-membunuh, sampai gontok-gontokan di depan umum. Kemudian juga “diajarkan” cara berbuat jahat, cara berbohong, cara melawan suami, cara mendurhakai orangtua, memperlihatkan gaya hidup hedonis serba wahh, gaya hidup bebas, bahkan sampai menggambarkan agama dan Tuhan sebagai sosok penghukum yang mengerikan dengan belatung dan daging gosong-nya. Lebih jauh lagi bahkan ada sinetron yang memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana caranya melakukan pembunuhan berencana. Masya Allah !!!… Pokoknya segala yang bersifat negatip pasti ada di sinetron-sinetron tersebut. Dan kesemuanya dikemas melalui tutur kata yang tidak pantas dengan akting yang “asal jadi” tidak sopan yang jauh dari nilai-nilai budaya ketimuran kita.

Disisi lain, parahnya lagi sinetron-sinetron ini ditonton oleh mayoritas kalangan kurang terpelajar, ibu-ibu rumah tangga atau pembantu, bahkan anak-anak usia sekolah yang tentunya butuh waktu lama untuk menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang “dibodohi”. Untuk sebagian besar masyarakat di pedesaan yang tidak memiliki alternatip pilihan tontonan tentunya sinetron “terpaksa” menjadi “menu wajib” mereka setiap malam. Maka bisa dibayangkan berapa banyak lagi masyarakat kita yang sudah “terbodohi” ???... Apalagi hal ini sudah berlangsung lama khususnya sejak TV-TV swasta mulai beroperasi.

Saya kuatir kalau hal ini dibiarkan terus-menerus maka tayangan-tayangan tersebut tanpa sadar dapat meracuni dan merubah cara berpikir masyarakat (khususnya generasi penerus) dengan pola pikir yang sama seperti yang ditontonnya di sinetron melalui prilaku “meniru tanpa sadar”. Bukti untuk ini sudah banyak, kita lihat saja bagaimana misalnya sekarang “hamil diluar nikah” yang sering dipertontonkan di sinetron sudah menjadi hal yang biasa pula di masyarakat, ada anak usia sekolah yang sudah bisa “membunuh dan memperkosa”.

Sekarang ini sinetron bahkan tanpa sadar sudah jadi “pusat budaya” anak-anak. Ada anak yang mulai berani ciuman (padahal masih SD) setelah melihat sinetron idolanya di TV yang ditontonnya dengan level fardhu ain pula. Masya allah… Tidak salahlah kalau ada sebagian tokoh-tokoh pendidik yang sudah menggolongkannya sebagai BAHAYA LATEN SINETRON …
Kalau sudah begini, bangsa Indonesia yang katanya berbudi luhur ini kedepannya mau jadi apaaaa ???? … Apakah bapak-bapak di KPI ini pernah memikirkannya ??? …
Perlu diketahui bahwa tulisan mengenai kebobrokan tayangan sinetron ini sudah banyak mendapat amarah, cacian, dan hujatan di berbagai media termasuk di forum-forum dialog di internet, tapi sampai sejauh ini “insya Allah” belum ada pihak-pihak yang merasa bertanggungjawab. Si Produser tetap saja aktif memproduksi sinetron-sinetron tsb dengan dalih “diminati masyarakat” tanpa menghiraukan dampak negatifnya, yang penting LAKU.

Kemudian aparat pemerintahan yang seharusnya “mengontrol” justru mungkin lagi ayiik pula ”terbodohi” dengan sinetron idolanya. Para guru-pun tidak bisa diharapkan peran maksimalnya karena tidak sedikit merekapun sudah “kecanduan” nonton tayangan “racun” sinetron tersebut. Sama seperti kebiasaan merokok, kalau sudah kecanduan maka sulit untuk berhenti.
Untuk itulah melalui KPI ini kami mohon TOLONG .. TOLONG .. DAN TOLONGLAH penayanagan sinetron ini DITERTIBKAN. Dengan siapa lagi kami PARA PENDIDIK ini harus mengadu ???.. Ketuklah terlebih dahulu nurani bapak-bapak sendiri.

Kami berharap masih ada tersisa IDEALISME di tubuh KPI ini. Jangan hanya karena menimbang “hak azazi berkreasi” dari sebagian pihak tetapi justru menjerumuskan moral bangsa. Kami sebagai “masyarakat yang sadar” juga PUNYA HAK untuk tidak dizalimi oleh orang-orang yang hanya mengejar tayang mengeruk keuntungan. Bapak-bapak yang berada di KPI ini yang “taring-nya” tentu jauh lebih tajam daripada kami seharusnya juga TURUT BERTANGGUNGJAWAB terhadap masalah ini. Buatlah semacam gerakan atau apalah namanya untuk “memerangi” sinetron-sinetron yang tak bermutu tersebut dengan rekomendasi yang “keras” ke pemerintah. Akhir kata, kami mohon KEBIJAKAN dan TINDAKAN NYATA dari bapak-bapak terhadap permasalahan sinetron ini. Tulisan senada juga sudah kami layangkan ke presiden SBY... Apalagi usaha kami ??? .....
[ Ir. Edy Ervianto, MT - dosen Universitas Riau, Pekanbaru ]

Tidak hanya aduan dari Bapak Edy saja yang telah masuk di KPI. Masih banyak yang terus berdatangan dan ditampilkan di website KPI tersebut. Lantas bagaimanakah langkah KPI dalam menyikapi masalah sinetron di Indonesia ini ? Dan sampai kapan kita harus menunggu hasilnya ? Gw rasa gak mudah melawan "mereka" yang hidup di balik produksi sinetron tersebut. ^_^ Bagaimana menurut Anda ? Ungkapkan opini Anda dalam kotak komentar di bawah ini ya...

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook