Jumat, 05 Oktober 2012

Tandu Jenderal Sudirman

Tags

Puluhan ribu pasukan terjun payung Belanda membentuk jamur-jamur di angkasa, pasukan Marinir dan Infanteri mengepung lapangan terbang Maguwo. Tentara republik kaget, kota Yogya kosong entah mengapa. "Dirman, kamu ikut saya" kata Bung Karno setelah rapat kabinet usai di Gedong Agung Yogya.

Bung Karno memilih untuk ditangkap guna memancing perhatian dunia Internasional bahwa Belanda telah menyalahi hukum perang. "Tidak..Bapak Presiden, anak-anak saya masih berkeliaran di hutan, bersembunyi di balik gunung, dan terus berperang, saya tidak ingin berkompromi dengan Belanda apapun alasannya.

Saya harus bersama anak-anak saya memanggul senjata dan membereskan pertempuran demi pertempuran"..Bung Karno menatap tajam "Terserah kamu, tapi hati-hatilah.." kata Bung Karno lalu ia bergegas ke arah pintu depan diikuti Hatta, Sjahrir dan Agus Salim.

Sudirman pulang ke rumahnya, ia melihat jalan-jalan kota Yogya kosong, kota yang lumpuh secara militer. "Dengan apa aku harus melawan Belanda?". Sampai di rumah ia berbaring, paru-parunya tinggal satu dan itupun sudah menghitam. "Umurku tak lama lagi, aku sakit keras..paru-paru ini tidak kuat menopang tubuhku, tapi ya Allah biarkan aku hidup walau hanya sebentar, demi bangsa ini..kerjaku belum selesai" batin Sudirman, ia lalu terbangun dan meminum air putih. "Tjokro, ambil bangku itu ikatlah dengan bambu dan jadikan tandu, bawa aku ke atas gunung, kita gerilya, aku akan menyusun perlawanan dari balik hutan" Kapten Tjokropranolo, ajudan Sudirman langsung sigap mencari tali tambang dan mengikat-ikat tandu dibantu dengan beberapa orang. Dan Sudirman naik ke atas tandu, ia dibawa ke hutan-hutan Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Lelaki yang paru-parunya tinggal satu dan menghitam itu, yang batuknya terus menerus seperti letupan api lokomotif kereta, yang tubuhnya kurus dimakan kuman penyakit. Berjuang demi bangsanya. Ia merasa punya tanggung jawab, ia lelaki yang bisa menjawab keadaan. Ia panutan. Di tengah malam hujan deras, ia bersembunyi dibalik alang-alang, kadang ia harus berjam-jam tiarap di tanah basah balik pepohonan sementara derap sepatu lars pasukan Belanda di depan matanya. Belanda mencari kepala Sudirman. Karena dia-lah kunci dari pertahanan tentara republik, dan tandu tua itu membawa Sudirman kemana-mana, ditengah degup batuk dan sakit di dada yang sangat nyeri. Sudirman bertanggung jawab pada bangsanya. Setelah perang usai, ia turun gunung dan masuk kota. Ia menangis tugasnya telah selesai, tak sampai setahun kemudian ia meninggal...seorang lelaki yang bertanggung jawan, seorang lelaki yang bisa menjawab keadaan. Militer sepenuh-penuhnya militer.

Kini BISAKAH PARA JENDRAL di negeri ini melihat tandu Sudirman, MALUKAH anda bila anda naik mobil mewah, dan rakyat disuruh minggir lalu anda bersikap seperti raja jalanan? Anda ingin dihormati tapi tidak satu kalipun anda pernah bertarung dengan musuh, berlumpur-lumpur di medan perang. Para Jenderal yang duduk-duduk di Cafe, membekingi kejahatan, menakuti rakyat dengan senjata bukanlah impian Sudirman.

Para menteri yang tidak malu naik mobil lexus berharga milyaran sementara rakyatnya masih berkubang lumpur kemiskinan adalah manusia-manusia yang harus belajar pada sejarah, menoleh pada sebuah tandu ,,,,

TANDU JENDRAL SUDIRMANku .......!!!

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia dan Komunitas Blogger Indonesia.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.


EmoticonEmoticon