5 Pertanyaan Bagi yang ingin Meng-Arab-kan INDONESIA

5 Pertanyaan Bagi yang tidak suka bila Website yang ingin meng-Arab-kan Indonesia diblokir.

5 Pertanyaan ini yang jawabannya menjadi alasan mengapa Negara sudah bosan bila Agama dibuat alat provokasi, dan dibuat alat memperkaya bangsa lain.

1. Yang membuat negara maju dan kaya dengan Eksport (penjualan ke luar negeri) atau Import (pembelian dari luar negeri) ? Eksport Import termasuk kekayaan budaya dan tradisi bangsa.

2. Yang membuat negara maju dan berkembang Kunjungan Warga Asing atau kita berkunjung ke negara lain?

3. Bila penampilan pakaian dan budaya Indonesia dibuat seperti ARAB, apakah mungkin orang Arab berbondong2 datang ke Indonesia dan membelanjakan uangnya di Indonesia? yang penampilan warganya adalah tiruan dari negara mereka.

4. Bila dulu Rasul tidak berjubah emas dan selalu hidup sederhana tanpa harta, apakah ARAB dan pemimpin ARAB sekarang berprinsip seperti Rasul? Apakah haji setiap tahun dan umroh hampir setiap hari dibantu Murah dan Gratis agar pemerataan seperti misi Rasul bisa tercapai?

5. Saat ini kekayaan negara Arab dengan negara Indonesia berapa berbanding berapa? Cadangan minyak Indonesia dengan Arab berapa berbanding berapa?

Ke-5 pertanyaan ini janganlah membuat Iman kita semakin lemah. Sebab, Pemimpin Arab yang membuat Agama sebagai Alat untuk mencoba menguasai dunia adalah Oknum-Oknum manusia saja. Agama yang bersih, jernih, dan murni, berisi syari'at agar kita semakin tulus dan baik dalam berkehidupan.

Tegarlah dalam berjuang. Bila Anda ingin berjuang di jalan Agama teladanilah Wali Songo yang berjuang dengan tetap mempertahankan kekayaan budaya dan tradisi bangsa, agar bisa tereksport.



Bila kita bisa memfiltrasi dan bijaksana, seperti yang disampaikan Gus Mus, ISLAM tidak menciptakan budaya dan tradisi, ISLAM tidak mengajarkan model pakaian, hanya tata cara berpakaian yang Islami.

Bila kita bijaksana, sholat pun bisa tetap berbatik dan berblankon, atau minimal peci hitam dan bersarung, karena ini adalah ciri khas bangsa kita, berbahasa keseharian pun tidak perlu mengganti panjenengan dengan antum, kulo dengan ane.

Wali Songo dulu menyampaikan syari'at dengan kreatif menyisipkan pada budaya dan tradisi yang sudah ada. Sunan Kali Jogo contohnya, menyampaikan dakwah dengan Wayang Kulit, sehingga muncullah istilah jimat Kalimosodo yakni bila diartikan Kalimah Syahadat.

Kitab-Kitab Islam juga tidak meninggalkan bahasa lokal, bila di jawa, penggunaan Aksara Jawa dan bahasa jawa masih digunakan dalam menjelaskan setiap kitab-kitab Islam.

Bila kita ingin mengkaji sejarah, Budaya dan Tradisi ARAB sudah ada sejak lama, bahkan cara berpakaian berjenggot, berjubah, bersurban, sudah ada sejak dulu. Abu Jahal juga berjenggot, berjubah, bersurban. Begitu pula umat yahudi nasrani waktu itu juga berpenampilan sama pada masa itu di Saudi Arabia.

Jadi, untuk sunnah, kita harus tetap bisa membedakan mana sunnah yang memang Rasul ajarkan yang paling premier atau utama, seperti Akhlakuk Karimah, mampu bergaul dengan warga sekitar, tidak memperkaya diri, dan lain-lain.

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook