Alasan Negara harus meminta maaf terhadap Keluarga Tertuduh PKI


Pembantaian panjang selama tahun 1965-1966 dilakukan oleh TNI dan Ormas terhadap Masyarakat Sipil yang tertuduh Anggota PKI.

Seperti dokumen-dokumen sejarah yang terungkap termasuk berbagai foto yang beredar, dalam pembantaian ini tidak ada perlawanan, bukti mereka adalah korban dari masyarakat sipil biasa yang lemah dan tidak berdaya.

Hal yang harus kita pahami saat ini :

Ketika banyak yang menyampaikan kekejaman PKI sebelum tahun 1965 kepada Kyai / Umat Islam / Pejabat, hal yang kita lupa adalah :

1. Pelaku kekejaman Anggota PKI tersebut adalah ulah oknum bermental preman, sebut saja A, B, C, dan ini jelas bukan masyarakat biasa.

2. Lalu mengapa yang dibunuh tahun 1965-1966 oleh TNI dan Ormas kala itu adalah A, B, C, D, E, F, G, bahkan sampai Z, perbandingannya jauh lebih banyak, yang dibunuh oleh TNI dan Ormas kepada anggota dan simpatisan PKI yang merupakan masyarakat biasa, bahkan juga anggota keluarganya yang tidak ikut bersalah. Pejabat dan guru pun juga turut dihabisi kala itu.

3. Jumlah yang dibunuh oleh TNI dan Ormas tahun 1965-1966 disebutkan antara 300.000 s.d 1.000.000 jiwa. Apakah mereka semua sebanyak itu, 300.000 s/d 1.000.000 orang mereka semua adalah TERSANGKA / pelaku pembunuhan di beberapa kejadian kekejaman PKI sebelum 1965. 

4. Lalu, Tersangka di Gerakan 30 September (G30S) / Gerakan 1 Oktober (Gestok) kepada 7 Jenderal adalah Oknum TNI. Jadi, ini Oknum TNI vs Oknum TNI, lalu mengapa dibalas sampai ke Masyarakat sipil biasa?.

5. TNI dan Ormas membunuh membabi buta kepada masyarakat sipil sebanyak itu tanpa sebuah proses peradilan/hukum, seperti pencarian bukti-persidangan-pemenjaraan.

6. Bila memang sebanyak itu 300.000 s/d 1.000.000 adalah tersangka pelaku pembunuh semua, maka yang terjadi adalah perang, sebab para pembunuh jelas memiliki senjata, kelompok, dan markas, dan tidak selemah itu.

7. Karena tidak adanya proses hukum yang jelas, seperti pencarian bukti dan persidangan, maka bisa jadi tersangka pembunuh kyai ini beberapa ada yang masih hidup hingga setelah tahun 1966. Oknum yang saya sebut sebagai A, B, C tadi bisa jadi ikut membantai masyarakat sipil dengan berkedok sebagai pembela TNI. Sebab, TNI dibantu Ormas yang merupakan masyarakat sipil biasa juga disebutkan santri pondok pesantren, jelas santri yang mayoritas masih ABG dan Remaja bertubuh kecil tidak akan mampu membunuh masyarakat sipil tertuduh PKI yang berbadan lebih besar. Apalagi saat itu mencari orang bertubuh kekar relatif sulit.

8. Bila A, B, C yang merupakan oknum bermental preman yang juga tersangka pembunuh kyai ini masih hidup setelah tahun 1966. Kebetulan A, B, C tidak menurut pada era orde baru (setelah 1968), maka dengan cepat para pembunuh rahasia (petrus) melenyapkan tersangka pembangkang ini.

9. Petrus yang seharusnya bisa diterapkan di tahun 1965 tanpa melibatkan masyarakat sipil biasa yang tak bersalah, mengapa diterapkan baru setelah 1968, setelah Mayjen Soeharto berkuasa di orde baru. 

---

Nah, sekarang kita pahami apa itu istilah OKNUM.

Ketika kita mendengar pemberitaan, terjadinya pembunuhan yang dilakukan oleh masyarakat sipil, bahkan anggota Aparat sekali pun, pemberitaan saat ini selalu menyebutnya OKNUM bukan? Oknum tidak mewakili semua anggota, apalagi yang hanya merupakan simpatisan.

Oknum adalah istilah yang sama ketika terjadi Bom Bali, maka yang bersalah adalah oknum bukan Islam. Harusnya kita juga adil bila yang bersalah oknum, maka bukan seluruh anggota dan simpatisan PKI yang bersalah. Semoga kita bisa membedakan antara OKNUM/TERSANGKA dengan LEMBAGA.

---

Nah, sekarang kita pahami apa itu Simpatisan.

Simpatisan PKI yang turut dibantai tahun 1965-1966 adalah Masyarakat Sipil biasa, seperti saat ini kita yang juga mungkin mendukung salah satu Partai di negeri ini, entah itu Partai A, B, C, D, dll.

Masyarakat sipil mendukung PKI, sebab dalam orasi politiknya, PKI menyampaikan mengenai kesejahteraan bagi rakyat miskin, buruh, dan tani. Prinsip sosial komunis ini yang menjadikan masyarakat kita yang masih baru bebas dari penjajahan, menjadi mendukung program kesejahteraan Partai ini.

Masyarakat Sipil yang mendukung PKI, mereka bukan Atheis, karena Komunis dengan Atheis itu jelas berbeda. Silahkan baca : Komunis Ada Baiknya, PKI Berbeda dengan Ateis

---

Setelah kejadian itu G30S lalu diusulkan membumihanguskan PKI sampai keakar-akarnya. Inilah yang disebut Genosida. 

Pembunuhan, pemenjaraan, penkucilan terhadap tertuduh PKI termasuk keluarganya juga ditujukan kepada para Pendukung Bung Karno, ini yang menyebabkan Bung Karno tidak lagi dipercaya Rakyat Indonesia.

Bung Karno yang begitu besar berjasa bagi negara bahkan kala itu Indonesia begitu berwibawa harus dipaksa lengser, dan berkuasalah Soeharto dan berhasil menjadi Presiden RI selama 30 tahun lebih. Bersamaan dengan itu, tambang emas di Papua menjadi milik Amerika.

Para pendukung Bung Karno dan pihak-pihak yang tidak mendukung Soeharto dengan mudahnya dituduh bagian dari PKI sehingga akan dikucilkan, tidak bisa menjadi pejabat, bahkan langsung hilang seperti diisukan ulah petrus. Inilah era orde baru, PKI dibuat alat untuk menyudutkan mereka yang tidak setuju dengan kepemimpinan orde baru di era Soeharto.

---

Maka, semoga Negara bisa meminta maaf kepada KORBAN Pembantaian TNI / Ormas 1965-1966, yang merupakan masyarakat sipil biasa yang tertuduh TERSANGKA Oknum PKI, termasuk keluarganya yang masih hidup hingga saat ini.

Bila yang diinginkan oleh beberapa pihak, PKI disuruh terlebih dahulu meminta maaf kepada KORBAN Tersangka PKI, jelas ini sangat kecil kemungkinan, sebab PKI Telah dibubarkan oleh Negara, dan Keluarga dari PKI jelas tidak akan berani menyebutkan sebagai perwakilan dari PKI disaat hampir semua masyarakat kita saat ini masih benci terhadap PKI.

Kenyataannya, kebencian masyarakat saat ini adalah kepada PKI (bukan kepada TERSANGKA Oknum PKI)

Bila toh tidak mungkin adanya permintaan maaf Negara kepada korban pembantaian TNI / Ormas, dan tidak mungkin juga adanya pemintaan maaf perwakilan dari TERSANGKA Oknum PKI...

Maka, semoga saja terjadi rekonsiliasi oleh Negara kita, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

---

Saya juga mendukung, sebaiknya PKI tidak perlu bangkit kembali, karena bila memang masih banyak yang sakit hati, dendam, dan benci terhadap PKI, bukan kepada TERSANGKA.

Saat ini perlu saya sampaikan juga, bila PKI dituduh sebagai anti Pancasila, justru saat ini semakin banyak gerakan yang anti pancasila, yang menolak pancasila, mereka ingin negara berdasarkan agama. Apakah ini berbeda? Jelas ini sama, karena agama juga bisa digunakan sebagai strategi politik untuk menguasai negara bahkan dunia, dan memperkaya pejabat tertingginya.

Sebarkan bila Anda peduli.

Oleh : Rey Arifin

Pembunuhan massal oleh TNI / Ormas kepada masyarakat Sipil, termasuk anggota dan simpatisan PKI membuat Soeharto maju sebagai Presiden, dan Freeport di Papua menjadi milik Amerika. Silahkan baca juga :
Sejarah Lengkap Soeharto Diduga Kuat Dalang Pembantaian 1965-1966
- Tak Hanya PKI, Pendukung Soekarno Pun Turut Dibantai
- Negara Harus Minta Maaf kepada Bung Karno & Keluarga

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Komentar Pembaca dengan Akun Google

8 komentar:

  1. menurut sejarawan dan sastrawan Taufik Ismail, PKI yg memulai pemberontakan dan pelanggaran HAM

    Jadi INFO di atas jelas SALAH dan hanya berdasarkan PERSEPSI pribadi

    POSMETRO INFO - Gerakan 30 September yang dikenal dengan sebutan G-30S/PKI, Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh), Gestok (Gerakan Satu Oktober) adalah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September di awal 1 Oktober 1965.

    Di saat itu tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha percobaan kudeta yang kemudian dituduhkan kepada anggota Partai Komunis Indonesia.

    Kebenaran sejarah Gerakan 30 September 1965 ini masih menyisakan misteri di negeri ini. Banyak spekulasi bermunculan. Ada yang menceritakan kejadian tersebut adalah suatu upaya perebutan kekuasaan apabila Bung Karno meninggal dunia karena sakit sejal 1964.

    Ada juga yang mengatakan Soeharto dibantu oleh CIA yang didalangi oleh negara Amerika Serikat yang ingin menggulingkan kepemimpinan Presiden Soekarno karena kiblat politiknya Rusia yang selama ini menjadi lawan abadi Amerika Serikat. Selain itu, ada kabar yang menyebutkan faktor Malaysia dan isu tanah yang menjadi penyebab dari Gerakan tersebut.

    Terbunuhnya tujuh perwira tinggi militer Indonesia dalam kejadian Gerakan 30 September 1965 juga menimbulkan polemik pelanggaran hukum dan HAM sehingga tuntutan terhadap penegakan hukum masih terus dilakukan.
    Sastrawan dan sejarawan Taufik Ismail menuturkan PKI yang memulai rangkaian teror yang menjadi sebab masaker itu. Gerakan preemtif rakyat anti PKI disebabkan dan dimulai oleh PKI sendiri. Pelanggaran terhadap hak asasi manusia disebabkan dan dimulai oleh PKI sendiri.

    “Namun ini dielakkan dan dengan semangat berdusta besar, bahkan tidak disebut sama sekali,” tegasnya dalam Forum Diskusi Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (Fordis KAHMI) bertajuk ‘Dialog 50 Tahun Gerakan 30 September‘, di Jakarta.

    Aidit, kata Taufik Ismail, menghapus dan mengaburkan sejarah pembantaian oleh Moeso pada Oktober –November-Desember 1948 di Madiun, Soco, Cigrok, di 24 kota dan desa di sekitar Madiun dengan sasaran ratusan kiai, santri, pamong parja, dan rakyat non PKI. Kenapa Moeso menjadi begitu kejam?

    Taufik mengungkapkan, Moeso melakukan pembantaian itu meniru Stalin (1925-1953). Moeso melarikan diri ke Rusia selama 21 tahun (1927-1948), sesudah gagal berontak pada 1927. Apa yang di Rusia diajarkan Stalin kepada Moeso, dipraktikkannya sesudah dia memproklamasikan Republik Soviet di Madiun pada 18 September 1948.

    Saat itu, Moeso melakukan pembantaian massal pada umat Islam dan masyarakat anti PKI. Kebiadaban ini tercatat dalam memori umat non-PKI. Sehingga ketika pembunahan enam jenderal (Gestapu PKI) yang disusul dengan Kudeta 1 Oktober 1965 Dewan Revolusi pimpinan DN Aidit, perebuatan kekuasaan yang gagal dan melarikan diri itu, umat bereaksi.

    “Hal inilah yang dieksploitasi KGB terus menerus. Rumus yang mereka gunakan adalah tiba-tiba, ujug-ujug dizalimi, dibunuhi tanpa sebab. Tentu ini tidak masuk akal sehat. PKI yang memulai itu semua. Awal sekali pada 1926, kemudian pada 1948 dan 1963-1954-1965,” paparnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya menghargai pendapat Pak Taufik Ismail dan Penulis Komentar (satu dua)

      1. saya setuju dengan point Soeharto didukung CIA / Amerika, terbukti freeport di papua kini milik Amerika.

      2. saya masih menganggap berbeda antara Tersangka/Oknum yang menjadi pelaku kekejaman yang disebutkan 1926 hingga 1965 dengan Lembaga PKI, dan ini juga berbeda dengan Simpatisan PKI dan Pendukung Bung Karno yang ikut dilibas oleh TNI / Ormas kala itu.

      3. saya lebih berpendapat pelaku pembunuh 7 jenderal adalah Oknum TNI, bukan LEMBAGA TNI.

      4. saya setuju bila Aidit dan Moeso terbukti adalah bagian dari TERSANGKA maka sebaiknya memang diproses hukum.

      Btw, inilah sejarah, saya kira apa pun yang terjadi ini hanyalah masa lalu, PKI tidak perlu bangkit lagi, namun semoga saja bibit-bibit pembunuhan tanpa proses peradilan seperti ini semoga tidak lagi terjadi di negara kita.

      Yang lalu biarlah berlalu, mari songsong masa depan dengan lebih baik.

      :)

      Hapus
  2. PKI yang memulai itu semua. Awal sekali pada 1926,kemudian pada 1948 dan 1963-1954-1965,” paparnya.

    1.Jangan sekedar membaca tapi mainkan logikanya juga,bray...:)
    Tahun 1926-27,Indonesia blm merdeka,jadi PKI memberontak pada siapa,bray...? PKI memberontak kepada kolonialis Hindia Belanda.Jadi sejak kapan berjuang melawan penjajah dianggap sbg suatu kejahatan,bray..? :V

    2.Tragedi Madiun 1948,ini agak rumit bray.Kembalinya Muso,perjanjian Renville yg merugikan,bertemunya Muso dgn Amir Syarifudin yg patah hati,perselisihan antara divisi Siliwangi dgn divisi Senopati,penculikan dan pembunuhan kaum sipil dan militer juga kaum agamis dan komunis.Ribet.
    Versi umumnya,dipicu oleh diproklamirkannya Republik Soviet Indonesia.Versi tidak umumnya,konspirasi negara kapitalis untuk mengganyang komunis.Terserah dah mau percaya versi yg mana.
    Dan,iya...,memang jatuh banyak korban diantaranya kaum santri dan ulama.Tapi jgn lupa bray,ada 8000 orang yg tewas juga 35000 lainnya yg di cap simpatisan kiri ditangkap,dipenjara dan diasingkan.

    3.Tahun 1954,ada kejadian apa ya? Setau saya tahun itu D.N.Aidit kembali dari pengasingan dan membentuk kembali PKI.Silahkan ditambahkan bagi yg tau...:)

    4.Tahun 1963.Terkait dikeluarkannya UU Agraria,PKI dituding sewenang-wenang dgn melakukan aksi merebut tanah dan lahan dari tuan tanah.Sebenarnya ini adalah reaksi kaum kelas bawah yg sejak lama ditindas tuan tanah.Kaum agamis yg berusaha menjadi penengah dianggap melindungi feodalisme warisan Belanda.Selain itu ditambah situasi politik yg memang sudah lama panas antara komunis dan agamis.Tak terhindarkan lagi terjadi bentrokan.
    Tapi itu hanya terjadi di beberapa tempat.Di tempat lain yg tidak terjadi bentrok,kaum agamis dan komunis masih bisa hidup berdampingan harmonis walau situasi politik sangat panas.

    5.Tahun 1965.Terjadinya Gestok.Ada banyak versi ttg ini,tak perlulah dibahas versi mana yg benar.Kita sepakati saja Beberapa Pimpinan PKI Terlibat dlm gerakan itu.Oke,fix.Tapi adilkah kesalahan " Beberapa Orang" itu karena salahnya membunuh 7 orang Jenderal lalu dosanya ditanggung 500 ribu orang tak bersalah..? Apakah 500 ribu orang yg dibantai itu mengetahui atau turut serta dlm gerakan itu..? Wajarkah jika jutaan rakyat lainnya ditangkap tanpa bukti lalu dipenjara tanpa diadili untuk sesuatu yg mungkin tidak mereka ketahui,kesalahannya mereka hanya karena mereka anggota PKI atau hanya karena loyalis Sukarno...

    Nah ini cuma persepsi pribadi,bray,kalo salah mohon diluruskan.Gak ada salahnya kan punya persepsi pribadi...? Yang salah adalah jika menelan mentah suatu persepsi tanpa menelaah dan mempertanyakan persepsi itu sendiri.Yang lebih lucunya lagi dengan tegas menyalahkan dan merendahkan persepsi orang lain dan membantahnya hanya dengan modal kopasan persepsi orang lain yg terbukti ditelan mentah-mentah...

    Ini persepsiku...
    Mana persepsimu....???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wawasan yang luar biasa agan Deden Deni. (y)

      Hapus
  3. Kalau tidak salah, Pembantaian PKI dituangkan dalam film Dokumenter The Act of Killing (2012)
    http://www.imdb.com/title/tt2375605/

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul gan, AlhamduliLLah saya juga sudah menonton :)

      Hapus
  4. Tapi kalau negara minta maaf sama PKI, sepertinya berlebihan pa.... dan tidak pelu dilakukan, kalau minta maaf berarti ngaku salah, kalau negara salah berarti PKI dengan segala kekejamannya itu benar, terlepas siapa dalangnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Bambang, yang lebih kejam adalah pembantaian oknum TNI dan ormas kepada tertuduh PKI yang sangat kejam, sudah dibaca kan di atas, tahun 1965 itu yang dibunuh berjumlah 300.00 s/d 1.000.000 orang adalah KORBANnya masyarakat dan keluarga tertuduh anggota dan simpatisan PKI, jadi tertuduh, dan pelaku pembunuhan adalah oknum TNI dan ORMAS.

      Sehingga biar kita tidak salah presepsi SEJARAH, selama ini banyak generasi muda kita yang menganggap lebih kejam adalah PKI yang membunuh rakyat biasa, itu keliru.

      Sehingga bila permintaan maaf tidak perlu dilakukan karena bisa membuat PKI bangkit kembali memang tidak perlu karena bisa menimbulkan konflik juga bagi masyarakat awam yang belum paham, sehingga pelurusan sejarah juga banyak orang yang mengharapkan, agar kita gak asal membenci dan menghina, tapi juga memahami konteks sejarah sebenarnya, dan kedepan jangan sampai lagi negara ini menjadi korban terpecah belah karena ulah segelintir orang bodoh saja.

      INDONESIA MAJU, BERDAULAT, BERSATU, DAN MERDEKA !

      Hapus

    Komentar Pembaca dengan Akun Facebook