Gak ada masalah kok, Pejabat Non Muslim di Indonesia


Ketika saya berargumen, lebih baik Pejabat Non Muslim tapi Jujur dan Terbukti Bekerja, daripada Pejabat yang ngakunya Muslim tapi gak ada kerjanya yang nyata dan malah terlibat korupsi untuk memperkaya diri beserta keluarganya.

Di jaman seperti ini, sudah seharusnya kita mendukung sosok-sosok Pejabat yang mau bekerja untuk rakyatnya, jujur, tidak terlibat korupsi, tidak hanya pencitraan tapi membuktikan kerja-kerja yang nyata, tanpa peduli apa pun agama dan kepercayaannya. Sebab, agama dan kepercayaan adalah hak pribadi masing-masing. Kebebasan beragama itu bukan urusan negara.

Saya ingat, beberapa saat yang lalu, saat saya menyampaikan sisi-sisi positif dari Ahok di sebuah Grup Facebook, yang saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sebab, terbukti Ahok memiliki kinerja yang nyata, perubahan-perubahan ke arah positif terus dirasakan oleh Warga Jakarta dengan berbagai kebijakan peraturan dan pembangunan.

Saya sampaikan Pejabat dari agama apa pun gak masalah asal dia bekerja keras, jujur, dan gak korupsi.

Maka, dihujani-lah saya melalui komentar di posting saya tersebut, juga melalui inbox tentang cara memilih pemimpin muslim yang benar. Dan seperti biasa, ayat-ayat keluar, juga tafsiran ulama-ulama tentang ayat itu.

Saya bukan tidak paham bahwa ada ayat tidak boleh memilih pemimpin non-muslim, cuma yang saya mau tanya yang dimaksud pemimpin disini siapa ? Pemimpin rumah tangga ? Pemimpin perusahaan ? Pemimpin negara ? Atau pemimpin agama ?

Kalau pemimpin agama, jelaslah tidak boleh. Bahkan yang non muslim pun tidak akan memilih pemimpin agama yang muslim, kacau jadinya. Pemimpin dalam agama itu yang menterjemahkan agama kepada para umatnya, kalau di Islam biasanya berlaku dalam fatwa-fatwa. Bagaimana bisa non muslim memberikan fatwa kepada muslim, atau sebaliknya ?

Lalu dibombardirlah saya dengan fatwa ulama-ulama terdahulu yang juga mengartikan bahwa yang dimaksud pemimpin itu adalah juga pemimpin negara.

Saya bertanya lagi, yang dimaksud negara itu adalah negara dengan sistem apa ? Apakah sistem berdasarkan agama atau sistem yang tidak berdasar agama ?

Kalau ini negara Islam, misalnya, maka wajiblah pemimpin agama itu juga pemimpin negara. Sebagai contoh negara Republik Islam Iran. Maka disana berlaku sistem Supremasi Ulama atau disebut Wilayatul Faqih, dimana ulama adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin negara. Pemimpin tertingginya diberi gelar Pemimpin Besar atau Rahbar. Kan tidak mungkin negara Islam di pimpin seorang Paus, karena Paus mempunyai negara sendiri yang dipimpinnya yaitu di Vatikan.

Nah kalau negara sekuler yang memisahkan agama dan politik, seperti Indonesia, yang berlaku adalah Undang-Undangnya. Menyusun Undang-Undang dan dasar negara itu tidak mudah, harus disesuaikan dengan banyak faktor. Ada gak di UU-nya pemimpin harus muslim ?

Kalau mau menyalahkan kenapa Indonesia bukan Republik Islam saja, ya salahkan Bung Hatta, KH Agoes Salim dan orang-orang pintar dan relijius pada waktu itu. Apa Anda mau bilang bahwa Anda lebih relijius dari mereka ? Apa yang sudah Anda perbuat untuk negara ini jika disandingkan dengan mereka ? Wong tinggal makan, minum, beol dan hidup dengan tenang aja kok susah.. Mereka-mereka yang menyusun dasar negara sekarang ini bukan orang goblok yang gak mengerti ayat dan tafsir ulama.

Lagian kalau Anda masih memandang bahwa para pejabat di negara ini adalah pemimpin, berarti parameter Anda masih parameter zaman kolonialisme. Kenapa ? Karena pada zaman itu pejabat adalah pemimpin.

Sedangkan pada saat sekarang, mindset seharusnya berkembang bahwa para pejabat itu adalah abdi negara. Mereka itu pelayan rakyat. Negara-lah pemimpin mereka.

Mereka dalam skala kecil mirip dengan petugas administrasi negara seperti kepala kelurahan. Lha kalau lurahnya non-muslim, kok gak protes tho ? Presiden, Gubernur, Walikota kan hanya skala administrasi-nya saja yang lebih luas. Mereka juga tidak mengatur cara Anda beribadah toh hanya mengatur negara ini, bener kan ?

Terus bagaimana dengan fatwa ulama terdahulu untuk tidak memilih pemimpin non muslim ? Yah, ulama kan manusia juga. Kadang mereka salah dalam menafsirkan, kadang mereka berfatwa demi melegalkan kekuasaan, kadang mereka berfatwa karena pesanan.

Kan, Nabi Muhammad saw juga berpesan hati-hati kepada para ulama yang dekat dengan kekuasaan. Bisa juga karena mereka ulama dengan nalar pendek. Seperti di Saudi ada fatwa dari seorang ulamanya wanita dilarang makan terong karena mirip dengan burungnya pria. Masak ulama kayak gini harus diikutin ? Tentu tidak toh ?

Saya sesat ? Saya menggunakan akal saya dalam beragama kok dibilang sesat. Pilah-pilah dulu masalah, jangan main ambil ayat lalu Anda lempar dengan nafsu besar Anda, atau Anda terikut nafsu ulama-ulama yang sekarang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan politik.

Bantu share untuk menyebarkan, dan ditunggu juga komentarnya di bawah ini...

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Komentar Pembaca dengan Akun Google

17 komentar:

  1. LUAR BIASA ULASAN INI...! INI BARU BENAR...! AGAMA JANGAN DI MASUKKAN KE RANAH POLITIK... POLITIK JUGA JANGAN MENGOTORI AGAMA... KALAU INI DITERAPKAN INDONESIA JAYA SEGERA TERCAPAI..!! LIHAT CONTOH PALING DEKAT SINGAPORA YANG MEMISAHKAN NEGARA/ POLITIK DENGAN AGAMA... JADILAH DIA NEGARA KECIL YANG JAYA DAN MAKMUR.!

    BalasHapus
  2. siip dah ulasan yang satu ini,...
    setuju sama opini ini,.. seribu jempol dah,...

    BalasHapus
  3. SUPER SEKALI KATA2 BPK INI,,,,,, good job ,,, ini baru bner ,,,, agama mu yah agama mu ,,,, agama ku yah agama ku,,,,,, berfikir positif itu baik,,,

    BalasHapus
  4. menurut saya ini adalah ulasan yg bijaksana....saya salut dengan gaya berfikir positif anda......sukses selalu.. dan tetap semangat.....Tuhan Memberkati

    BalasHapus
  5. Agma di turunkan oleh Allah,adalah utk mengatasi kterbatasan pemikiran manusia,buka utk membelenggu pikiran pikiran yg yang maju demi kemanusiaan

    BalasHapus
  6. Salut. Semoga dapat menjelaskan pada orang yg otaknya hanya berisi nafsu untuk mengebiri hal orang lain.

    BalasHapus
  7. hmmm,, setuju pemimpin negara adalah abdi rakyat...setujuuuuu.

    BalasHapus
  8. Karakter muslim yg seperti ini patut dihormati dan dicintai. Salut dgn tulisan yg berbobot! Trus maju bung buat kebaikan masyarakat banyak!:-)

    BalasHapus
  9. Klo postingan begini terus sepi, saya langsung tahu pasti postingan kontrofersi,,, hahahaha.... semangat Pak REY,, saya sangat setuju. Agama pribadi kita dengan Tuhan, Negara, Manusia dengan manusia. Hendaknya dalam bernegaranya keagamaan mereka dapat terlihat. Bukan sebagai unjuk diri, pamer tapi sebagai pribadi yang menjunjung tinggi agamanya. Bukan yang cuma bisa OMDO. Thank you buat pencerahannya Pak Rey.GBU

    BalasHapus
  10. banyak orang salah mengartikan sebuah agama bukankah allah sudah menyebutkan cari pemimpin yang amanah .,., bukan hanya jujur saja .,., karna jujur dan bersih saja tidak cukup

    BalasHapus
  11. Keren.. jika banyak yang memiliki pola pikir seperti ini, tidak menutup kemungkinan Indonesia akan menjadi negara maju yang diperhitungkan negara2 lain

    BalasHapus

    Komentar Pembaca dengan Akun Facebook