Komunis Ada Baiknya, PKI Berbeda dengan Ateis


Komunis adalah sebuah ide yang diutarakan oleh kaum buruh, pekerja, petani untuk melawan prinsip kapitalis (perbudakan) agar pemerataan khususnya bidang ekonomi dapat dirasakan oleh semua. Ideologi ini sangat berbeda dengan ateis, bahkan di RRC (China) hingga saat ini komunis digunakan sebagai ideologi bernegara.

Semua ideologi pasti ada baik dan buruknya, dan komunis bukanlah ideologi kepercayaan, melainkan adalah ideologi sosial ekonomi politik yang seharusnya kita bisa membedakan dengan apa itu ateis (tidak bertuhan).

Baca selengkapnya di wikipedia : https://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme

Sedangkan PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah sebuah partai seperti halnya banyak partai-partai yang bermunculan di negara kita saat ini.

Masyarakat sipil mendukung PKI, sebab dalam orasi politiknya, PKI menyampaikan mengenai kesejahteraan bagi rakyat miskin, buruh, dan tani. Prinsip sosial komunis ini yang menjadikan masyarakat kita yang masih baru bebas dari penjajahan, menjadi mendukung program kesejahteraan Partai ini.

Kejahatan PKI yang diceritakan oleh berbagai pihak di tahun sebelum 1965 adalah ulah oknum / tersangka, dan jelas ini bukanlah kejahatan simpatisan PKI yang merupakan masyarakat sipil biasa.

Apa itu Tersangka PKI ? Apa itu Oknum ? Siapa yang membunuh Kyai / Umat Islam / Pejabat ? Percayakah Anda bahwa 300.000 s/d 1.000.000 jiwa semuanya adalah Tersangka Pembunuh Kyai ? Lalu bila sebanyak itu semuanya adalah tersangka pembunuh, mengapa tidak terjadi perang ? karena pembunuh pasti punya senjata, kelompok, dan markas. Baca selengkapnya di : Alasan Negara harus meminta maaf terhadap Keluarga Tertuduh PKI


---

Saat ini banyak orang menyerukan untuk menolak komunis dengan dalih komunis adalah musuh pancasila yang tidak bertuhan (ateis).

Padahal Ateis dengan Komunis sangat berbeda.

Banyak sekali mereka yang menggunakan ideologi ekonomi politiknya adalah komunis tapi merupakan pribadi yang taat beragama.

Ateisme adalah ketidakpercayaan terhadap keberadaan Tuhan dalam hal ini Tuhan personal, Sang Maha Pencipta, dan Maha Berkehendak. Sementara komunisme adalah ideologi ekonomi politik yang menyerukan pemerataan.

Oleh karena itu, tidak semua ateis adalah komunis dan tidak semua komunis adalah ateis.

Seorang ateis bisa saja memiliki pandangan liberal, sekuler, kapitalis, atau juga komunis.

Sementara itu, walaupun mungkin sebagian besar komunis adalah ateis, ada banyak orang beragama atau teis yang menganut komunisme sebagai ideologi ekonomi politiknya, di Indonesia contoh yang terkenal adalah Haji Misbach, sementara di India komunisme bukan hanya dirangkul, tetapi juga dipimpin oleh muslim, sementara di Amerika Latin, komunisme/marxisme mempengaruhi ajaran Katolik sehingga terbentuklah Teologi Pembebasan.

Komunisme adalah paham yang menolak kepemilikan barang pribadi dan beranggapan bahwa semua barang produksi harus menjadi milik bersama. Ini bertujuan agar tidak ada hirarki buruh-pemilik modal karena sistem kapitalis cenderung mengeksploitasi manusia.

Komunisme memiliki keberpihakan yang sangat tinggi terhadap rakyat miskin, yang disebut sebagai proletar, dan menolak kapitalisme yang dianggapnya adalah penghisapan manusia atas manusia. Itulah kenapa PKI pada masanya mampu menjadi partai terbesar ketiga di Indonesia.

Rakyat Indonesia yang mayoritas adalah rakyat miskin di negara yang baru lepas dari penjajahan mendukungnya; dan itu sama sekali tidak berhubungan dengan ateisme.

Salah satu penyebab dihubung-hubungkannya ateisme dengan komunisme, mungkin adalah kata-kata Karl Marx, “Agama adalah candu bagi massa rakyat.” Pemimpin kelompok komunis kala itu adalah orang-orang ateis.

Kesan bahwa komunisme itu bukan hanya ateis tapi juga anti-teis bisa jadi disebabkan tindakan represif terhadap kehidupan beragama yang banyak terjadi di negara-negara komunis.

Namun demikian, perlu diingat, pemberangusan di negara komunis bukan hanya ditujukan pada kelompok agama, melainkan juga pada kelompok liberal, pendukung demokrasi multipartai, serta kaum oposisi dan pembangkang.

Anti-teis dan ateis tidak tepat disandangkan pada komunisme/marxisme.

Yang lebih tepat sebetulnya adalah bahwa komunisme/marxisme banyak menyuarakan anti agama, sebab dimanfaatkan oleh pemimpin-pemimpin komunis yang berfikir kapitalis.

Lebih tepat lagi, anti struktur kekuasaan agama yang sengaja dipelihara disamping kekuasaan raja untuk melemahkan daya kritis dan daya juang rakyat melawan tirani.

Persisnya yang dilawan oleh komunisme adalah struktur kekuasaan agama dalam pemerintahan dan kehidupan politik sebagai alat kontrol (melalui mekanisme obat bius/candu pengurang rasa sakit bagi penderitaan dan kemiskinan) rakyat.

Di Indonesia, cap ateis pada komunis dan sebaliknya adalah hasil dari propaganda rejim Orde Baru yang ingin melenyapkan partai besar dan jutaan pendukungnya tersebut secara instan dan dalam jangka panjang.

Guna mendapatkan dukungan kelompok agama, maka rejim Orde Baru mempropagandakan bahwa komunis adalah ateis, musuh agama, musuh pancasila, sehingga mereka harus diberantas dari bumi Indonesia.

Lebih 300.000 s.d 1.000.000 orang dibunuh oleh negara dan organisasi agama karena dituduh PKI, jutaan lainnya dirampas harta benda dan hak-hak sipilnya, dipenjara tanpa pengadilan, dibuang ke Pulau Buru akibat kampanye antikomunis di tahun 60-an ini.

Jadi, pembantain lebih banyak dilakukan oleh negara kepada mereka yang dituduh PKI daripada yang dilakukan oleh PKI.

Cara agar banyak yang mendukung anti komunis adalah diumumkannya oleh negara bahwa pembunuh 7 Jenderal Revolusi di lubang buaya adalah PKI.

Di Indonesia, hingga saat ini, dengan banyaknya buku-buku pelajaran, buku-buku sejarah, atau guru yang mengajarkan kita untuk membenci PKI tanpa mereka tahu alasan sebenarnya, menjadikan masih banyak masyarakat Indonesia menganggap komunis itu hal yang sangat keji. Padahal pembunuhan massal dalam jumlah banyak justru dilakukan oleh negara kepada masyarakat sipil yang dituduh PKI.

Saat ini coba, kita lihat tokoh komunis di Indonesia..

Tan Malaka adalah muslim yang saleh. Tan malaka adalah anggota Partai Sarekat Islam, dan sebagian anggota partai ini berpaham komunis, termasuk juga Semaun dan Tan Malaka, karena itu kelompok ini biasa disebut Sarekat Islam Merah.

Sebagaimana Semaun, Tan Malaka pun juga muslim yang taat melakukan solat lima waktu, membaca alqur’an hampir tiap hari (dia kecilnya dipesantren, bukankah dia asli Padang yang secara tradisi adalah penganut islam yang taat?).

Juga jangan lupakan Haji Misbach, seorang kyai komunis dari Surakarta, juragan batik sukses yang menguasai ilmu tafsir alqur’an dan kitab kitab kuning. Jadi islam dan komunis bisa dianut sekaligus oleh satu orang, karena sejatinya memang tidak bertentangan.

Sekali lagi : Opini ini tidak semata-mata membela PKI, sebab PKI hanyalah sebuah partai, dan memang tidak perlu lagi ada PKI lagi di negara kita. Namun, yang perlu diluruskan, pembantaian tahun 1965-1966 adalah pembantaian yang salah sasaran yang dilakukan negara.

Saya hanya menyampaikan jangan terjebak hanya dengan istilah dan pembelokan sejarah demi keuntungan penguasa.

Sebarkan bila Anda peduli.

Oleh : Rey Arifin

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook