Arya Wedakarna : Langkahi Mayat Saya jika Hendak Islamkan Bali


Saya, Rey Arifin juga Umat Islam tapi dalam hal ini saya setuju dengan I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Bila upaya untuk mengislamkan bertujuan untuk menghapus seni, tradisi, dan budaya lokal, maka ini perlu ditanggapi hati-hati terutama oleh pemangku adat setempat.

Kita tau, Islam yang ada saat ini sangat jauh dari Islam yang tetap menjunjung tinggi seni, tradisi, dan budaya lokal layaknya era Walisongo dahulu. Mulai cara berpakaian, blankon dan baju adat juga sudah ditinggalkan, padahal juga bisa dikenakan saat beribadah sholat atau mendatangi pengajian sekalipun.

Keunikan Islam di Indonesia telah jauh berbeda dengan penampilan Sunan Kalijogo.

Maka memang tujuan mengislamkan yang justru ingin menghilangkan kekayaan daerah setempat, seni, tradisi, budaya lokal, yang justru ketiga hal itulah yang menjadi daya tarik juga bagi para wisatawan baik lokal terutama internasional, ini jelas harus terus dikaji.

Bagaimana mungkin orang timur tengah akan berkunjung ke negeri ini bila penampilan termasuk adat, seni, dan budayanya juga sama persis dengan yang ada di negaranya. Mereka akan tertarik bila ada sesuatu yang unik di sebuah negara.

Dan, Nabi Muhammad pun tidak menciptakan seni, tradisi, dan budaya, sebab seni, tradisi, dan budaya nabi kala itu adalah seni, tradisi, dan budaya lokal sejak jauh sebelum nabi terlahir. Cara berpakaian, cara berjubah, cara berjenggot, semua berpakaian seperti itu bahkan sebelum nabi terlahir. Abu Jahal yang tidak suka dengan nabi pun memakai pakaian jubah, surban, dan jenggot sama seperti nabi.

Yang membedakan Nabi dengan Abu Jahal Nabi adalah keramahtamahannya, senyum damainya, dan begitu cintanya kepada semua umat manusia, sehingga banyak yang tertarik dengan Islam karena kebaikan dan keramahtamahan nabi bahkan kepada yang tidak seiman sekali pun. Nabi betul-betul sangat berhati-hati mengenai seni, tradisi, dan budaya lokal sebab ini adalah kekayaan untuk mengundang wisatawan asing. Nabi mengajarkan syariat tanpa melepas tradisi, seni, dan budaya lokal jauh sebelum beliau lahir.

Berikut berita lengkapnya dari suara-islam.com :

Denpasar (SI Online) - Anggota DPD utusan Bali, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna mengatakan, saat ini kelompok minoritas lebih kreatif dibandingkan kelompok mayoritas. Dia mencontoh Israel yang hidup di tengah-tengah bangsa Arab.

"Ke depan Bali bisa jadi seperti Israel, karena Bali bisa memenuhi unsur seperti itu," kata Wedakarna dalam acara dialog terkait isu pembentukan desa wisata syariah di Denpasar, Bali, Kamis (26/11) lalu seperti dikutip Republika.co.id.

Kegiatan yang dihadiri berbagai tokoh Hindu dan berbagai eksponen umat Hindu di Bali, berlangsung di aula Bank Indonesia Denpasar. Wedakarna mengklaim, unsur-unsur yang dimaksudkannya adalah, pertama DNA orang Bali adalah orang Majapahit yakni orang Jawa yang tidak ingin disyahadatkan oleh Walisongo.

Selain itu, Wedakarna menyebut orang Bali punya jiwa puputan, yakni berperang sampai titik darah penghabisan. "Orang Bali sudah biasa puputan, lewat medan apa pun. Ini bukan retorika, tapi fakta. Sejak sebelum zaman kemerdekaan ada Puputan Badung, Puputan Margarana, Jagara, Puputan Klungkung," katanya.

Menurut Wedakarna, bila mengacu pada sejarah, orang Bali adalah orang yang pintar-pintar, karena mereka keturunan Majapahit yang berasal dari kalangan bangsawan. Hal itu klaimnya, bisa dilihat dari keturunannya saat ini, yang setiap ujian nasional selalu masuk sepuluh besar.

Wedakarna menegaskan, dalam darah orang Bali ada darah perang. Dia mengatakan leluhur orang Bali memiliki degniti yang hebat. Karena bila melihat dari perjuangan selama 500 tahun menghadapi Islamisasi, bukan pekerjaan mudah.

Sampai dalam babad Raja Dalem Waturenggong, kata Wedakarna, disebutkan kalau sang raja telah mengusir Sunan Wali yang ingin mengislamkan Bali. Saat itu Raja Dalem Waturenggong menantang utusan Walisongo, bila ingin mengislamkan Bali.

"Hitung dulu bulu kaki saya dan langkahi mayat saya, jika hendak mengislamkan Bali," tantangnya.

Menurut dia, hampir semua masyarakat Bali berbicara anti syariah. Bahkan dalam sidang BPUPKI pada 1945, utusan Bali I Gusti Ketut Puja, menolak Piagam Jakarta. "Sekarang ini tampaknya hanya pengulangan sejarah saja. Bukan hal baru. Tapi Indonesia lagi sensitif," katanya.

Siapa Arya Wedakarna?

Arya Wedakarna, anak muda asal Bali ini memang selalu membuat sensasi. Pada 7 Agustus 2014 lalu melalui akun facebooknya, mantan model dan cover boy majalah ANEKA itu menulis status yang menyatakan penolakannya terhadap perbankan syariah di Bali.

"Aliansi Hindu Muda Indonesia dan Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) hari ini berdemonstrasi di depan Kantor Bank Indonesia Denpasar untuk moratorium/stop izin Bank Syariah di pulau seribu pura. Bersuaralah anak anak muda Hindu. Pertahankan ekonomi Pancasila ! Lanjutkan !!!", tulis Presiden World Hindu Youth Organisation (WHYO) itu.

Siapa sebenarnya sosok yang mengaku bernama lengkap Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III , SE (MTRU), M.Si itu?

Biodata sosok muda itu bisa ditemukan dalam websitenya, http://vedakarna.com. Di sana dijelaskan bila Arya Wedakarna adalah lelaki kelahiran Denpasar, 23 Agustus 1980. Ia mengaku bergelar Raja Majapahit Bali Abhiseka Ratu Sri Wilatikta Tegeh Kori Kresna Kepakisan I.

Arya juga mengklaim berulang kali dia mendapatkan penghargaan Museum Rekor Indonesia (MURI). Tercatat ia pernah menyabet gelar sebagai doktor termuda di Indonesia saat berusia 27 tahun dan rektor termuda di Indonesia dengan usia 28 tahun. Ia sekarang menjabat sebagai Rektor Universitas Mahendradatta Bali, yang dikatakannya sebagai universitas tertua di Bali yang didirikan oleh ayahnya, Shri Wedastera Suyasa, bersama Presiden Sukarno. Di Bali kampus ini tergolong kampus gurem.

Pendidikan SD-SMAnya ditempuh di Bali. Tahun 2000 ia menempuh pendidikan di Melbourne Languange Center, Australia. Pada 2002 ia kembali ke Indonesia dan masuk ke Jurusan Manajemen Transportasi Udara di Universitas Trisakti. Kemudian ia menyelesaikan S-2 dan S-3 nya di Universitas Satyagama Jakarta. Ia mengklaim memiliki keahlian dalam bidang transportasi udara dan manajemen pemerintahan.

Arya Wedakarna juga pernah terjun ke dunia hiburan. Ia menjadi model dan bintang film serta sinetron.

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook