Bobroknya Hukum Negara Kita ! Pengrajin TV Bekas dianggap Penjahat


Memang bobrok wajah hukum di negara kita yang bernama Indonesia ini. Polda Jawa Tengah telah 'kongkalikong' bersama Kejaksaan Negeri Karanganyar secara kompak telah menghancurkan lapangan kerja saudara kita, Muhammad Kusrin, 41 tahun, warga Sukosari, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, tanpa sosialisasi dan solusi yang jelas.

Pak Kusrin hanya salah satu dari sekian Warga Negara Indonesia yang memiliki keahlian dan keterampilan elektronika di seluruh Indonesia ini.

Mereka dengan keahliannya yang seharusnya didukung untuk sebuah embrio INDONESIA MANDIRI. Indonesia yang mampu berdikari, berdiri, mampu bersaing, dan telah memiliki berbagai pabrik barang-barang kebutuhan sehari-hari dengan merk yang betul-betul dari negeri ini.

Usaha Warga yang mulai berfikir ke arah Indonesia Mandiri ini nampaknya memang malah dianggap penjahat di negeri ini.

Satu saja pertanyaan yang juga sering saya tanyakan kepada siapa pun yang mengaku penegak hukum atau pemilik hukum sekalipun bila hanya bisa menyalahkan, menangkap, tanpa memberi solusi dan sosialisasi, saya selalu bertanya, "SEBENTAR PAK, HUKUM INI SEBENARNYA BERPIHAK PADA SIAPA SIH PAK ?"

Dari semua yang saya tanya demikian, tidak satu pun mampu menjawabnya, rata-rata mereka hanya menyampaikan negara ini negara hukum dan kita harus taat kepada hukum.

Saya ulangi lagi pertanyaan saya, "HUKUM INI SEBENARNYA BERPIHAK PADA SIAPA SIH PAK ?"

Lagi-lagi saya tidak mendapatkan jawaban yang gamblang dari pertanyaan saya itu, semua yang mengaku penegak hukum itu seolah-olah adalah pemilik hukum.

Rakyat dijadikan objek kejahatan, bukan dibimbing dan dibina, diberikan sosialisasi mengenai proses hukum yang sebenarnya yang juga berpihak kepada semua rakyat dari segala elemen.

Sebenarnya saya hanya berharap para penegak hukum itu menjawab, hukum itu berpihak kepada semua rakyat Indonesia dari segala elemen atau lapisan masyarakatnya.

Bila memang ada yang dengan mudahnya mampu menjawab itu, saya pasti akan tanya lagi, "TERUS SECARA DETAIL BENTUK NYATANYA (PROSES NYATANYA) BAGAIMANA PAK KALAU HUKUM BERPIHAK PADA RAKYAT TANPA TERKECUALI ?"

Namun memang faktanya, hingga saat ini hukum adalah milik orang-orang kuat saja, orang-orang kaya, termasuk pejabat dan penegak hukum yang nyaris kebal hukum.

Intinya, mereka yang kaya, mereka yang bisa mendirikan lembaga perusahaan, mereka yang rutin bayar pajak padahal secara nyata aliran dana pajak tidak secara transparan dijelaskan pembelanjaannya, apakah juga uang hasil pajak rakyat ini untuk proses kemandirian rakyat? ataukah uang pajak dari rakyat ini dialirkan ke mafia pajak, orang-orang kaya di pemerintahan, layaknya Gayus Tambunan?

Inilah potret negara kita, saudaraku, saya sendiri secara pribadi jujur sangat-sangat prihatin, sebab memang secara nyata hukum di negara kita Indonesia ini jelas-jelas tidak berpihak kepada seluruh rakyat Indonesia. Hukum yang seharusnya mengayomi, bukan mengayomi, bahkan terkesan hukum digunakan untuk menyalahkan dan menyalahkan rakyat yang tidak tau apa-apa TANPA SOLUSI.

Saya sampai gak bisa ngitung, mulai dari masalah windows yang dianggap ilegal, padahal komputer di kantor yang mengaku penegak hukum pun termasuk laptop pribadi dan komputer di rumah pribadi hampir semua menggunakan windows ilegal.

Dan lagi, masalah legalitas radio komunitas yang juga tidak diarahkan malah radio komunitas dianggap penjahat ketika dihadapkan dengan pengusaha kaya yang mampu membeli legalitas dan membeli frekuensi.

Dan sekarang ini, masalah saudara kita ini, Pak Muhammad Kusrin yang dianggap memasarkan TV ilegal, yang jelas-jelas Pak Kusrin hanyalah pengerajin dari monitor dan tv bekas. Dan ini pun dianggap ILEGAL ketika pengusaha kecil tidak mampu membayar LEGALITAS.

LEGAL = UANG

Begitukah ??? Bila memang begitu, ganti saja kata-kata Legal dengan kata-kata TIDAK MAU BAYAR NEGARA. Hihihi... jangan mau ah dibodohi dengan sebuah istilah atau sebuah kata. Saatnya kita harus cerdas. Bongkar kebrobokan hukum negara ini ! Teriakkan bahwa masyarakat pribumi juga ingin mandiri, sukses, dan mampu berkarya di tanah kelahirannya sendiri.

Carilah penjelasan, hukum untuk semua rakyat tanpa pandang bulu, hukum untuk mengayomi, hukum juga untuk mengatur agar persaingan menjadi sehat sehingga rakyat kecil juga dilindungi diberikan hak hukum untuk bisa mandiri. Hukum untuk persaingan sehat antara si kaya dan si miskin.

Bila tidak begitu, memang betul, hukum digunakan si kaya untuk menjegal si miskin agar tidak boleh kaya.

Saya usul mohon dihilangkan kata-kata "Polisi Melindungi, Mengayomi, dan Melayani Masyarakat", sebab kata-kata itu hanya pembohongan publik, terima kasih. ^_^

Inilah salah satu potret hukum di negara kita :

"Terbukti bentuk kejahatan, 161 TV rakitan lulusan SD dimusnahkan"


Ratusan unit televisi hasil rakitan MK atau Muhammad Kusrin bin Amri (41), warga Sukosari, Gondangrejo, Karanganyar, dimusnahkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar, Senin (11/1) kemarin. 161 unit perangkat elektronik dibakar itu merupakan barang bukti tindak kejahatan dilakukan Kusrin.

Awalnya, Kusrin yang lulusan sekolah dasar mencoba berusaha mandiri dengan mengumpulkan monitor komputer bekas dan perangkat televisi usang, dan membuka usaha perbaikan alat elektronik. Dia lantas membongkarnya dan mengutak-atik hingga bisa dioperasikan menjadi televisi dan dijual. Karena permintaan meningkat, dia mulai serius dan merekrut pegawai. Televisi rakitannya pun diberi mereka miliknya.

Meski demikian, polisi berpikir lain. Usaha Kusrin digerebek tim Reskrim Polda Jawa Tengah pada Maret 2015. Dari lokasi penggerebekan berhasil diamankan ratusan televisi rakitan dengan berbagai merek.

"Pada awalnya, terdakwa ini hanyalah menerima servis aneka macam barang elektronika. Dari situlah kemudian tersangka merakit pesawat televisi dengan menggunakan komputer bekas," kata Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Karanganyar, Teguh Subroto, Selasa (12/1).

Teguh melanjutkan, bentuk kejahatan dalam perkara ini adalah Kusrin merakit televisi itu secara mandiri. Menurut Teguh, hasil televisi rakitan rata-rata berukuran 14 dan 17 inchi itu kemudian dimasukkan ke dalam kardus dia beli dari pemulung, dan dijadikan boks pembungkus televisi rakitan.

"Rakitannya itu kemudian diberi merek dan kemudian dijual. Terdakwa sudah divonis awal Desember lalu," ujar Teguh.

Dalam merakit, Teguh dibantu delapan karyawan. Setiap hari, dia berhasil merakit sekitar 30 unit televisi. Televisi hasil rakitannya kemudian dia jual di wilayah Solo Raya dan sekitarnya, dengan harga Rp 600 ribu sampai Rp 700 ribu tiap unit.

"Terdakwa divonis bersalah karena berani memproses dan memasarkannya tanpa dilengkapi izin terlebih dahulu dari Kementerian Perindustrian dan Perdagangan. Atas perbuatannya tersebut, pengadilan memvonis hukuman 6 bulan penjara dan denda Rp 2,5 juta," tutup Teguh.

Foto diatas adalah foto pemusnahan televisi rakitan ini di Karanganyar.

NB: Tambahan capture komentar saya di komentar mengenai hal ini di facebook


SHARE JIKA ANDA PEDULI

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook