Muhammadiyah dan NU itu Sama Baiknya, Ini Alasannya dan Bedanya ! Penjelasannya Lengkap, Sebarkan ! #NgajiYuk

Soal Aqidah menurut pengertian bahasa "Muhammadiyah" dan NU sama sama Ormas, organisasi Islam yang lahir di jaman "Belanda". artinya yang punya negara, dua ormas ini. Terlebih pada waktu itu tidak ada ormas yang sehebat keduanya, melainkan ormas lokal yang bernama "Muhammadiyah" dan NU. Tetapi apakah motivasi kedua ormas yang masih berada dalam perlindungan hukum belanda waktu itu. Bisa dilihat dalam dokumen Belanda akte berdirinya ormas, yang mencerminkan visi dan misi berbeda. Secara causalitas, Muhammadiyah berdiri terdorong oleh maraknya keyakinan leluhur, cerita mistik danpaganis yang bertaburan di masa itu. mendorong KH. Ahmad Dahlan membuat media dakwah bernama "Muhammadiyah".


Tak pelak lagi berdirinya "Muhammadiyah" mendapat tantangan keras kaum adat yang masih merindukan keyakinan agama sebelum Islam, yang subur dan makmur ditanah Jawa. Bukan main geramnya para tokoh tokoh adat mendengar adanya gerakan Islam anti keyakinan warisan nenek moyang yang menyatu dalam jiwa mereka. Dirasakan sebagai rongrongan terhadap Islam oleh mereka, hingga gaungnya menyebut "Muhammadiyah" telah kafir, meninggalkan Islam adat [ maksudnya warisan para wali]. Sebagaimana sejarah, wali songo mengislamkan tanah Jawa masih meninggalkan masalah seperti adat yang campur aduk dengan berbagai keyakinan adat setempat. Akibatnya islam yang dikenal umat waktu itu adalah Islam versi walisongo, jika bisa dibuat tuduhan padanya.

Tantangan "Muhammadiyah" yang lahir sebagai pensucian terhadap agama dengan melakukan aksi dakwah anti TBC, menimbulkan reaksi keras dan ancaman kepada pendiri-Nya. Maka pada tahun 1926, NU berdiri dengan dasar membendung arus pemikiran wahabi, sebagaimana ditulis sejarawan NU. Ketua PBNU Masdar F Mas’udi menyatakan salah satu pemicu didirikannya NU adalah untuk menghadapi Wahabisme yang kalau itu mulai menguasai Arab Saudi. itu alasan mengapa NU memandang gerakan Islam Muhammadiyah sama dengan wahabisme, karena sikap sikap KH. Ahmad dahlan yang tidak bisa menerima kongsi kebiasaan adat masuk kedalam Islam, membuat gerakan Islam adat melakukan terobosan terobosan anti Dahlaniyah waktu itu. Pada saat Indonesia merdeka, dalam peta politik kebangsaan NU menempatkan diri sebagai oposan Partai Masyumi yang di dalamnya banyak orang Muhammadiyah dan Persis.

Berdirinya "nasakom" dan bubarnya masyumi akibat sikap Islamisasi yang terjadi terus menerus, dan dukungan NU yang kuat terhadap pemerintahan Sukarno dan Nasakomnya. Dan nasakom itu sendiri ketika itu bagi PKI adalah agama yang harus di bela, karena satu sisi PKI memerankan kata PKI sebagai partai Kyai Islam, sehingga memancing emosi kaum muda yang beragama Islam abangan berlomba masuk PKI.

Perdebatan Muhammadiyah Vs NU muncul juga dalam masa Pak Harto, yang memisahkan Muhammadiyah dan NU selalu pada jarak agama Islam yang berbeda dalam visi dan misi, meskipun dinilai Aqidahnya sama. Dijaman Pak Reformasi, jaman kegemilangan NU yang diantar jadi Presiden oleh Pak Amin, justru kemudian harus jatuh dari kursi Presiden, hingga akhirnya kekuasaan ditangan Megawati meskipun hanya sebentar. Ketegangan merata di seluruh Indonesia, membuat banyak amal usaha Muhammadiyah jadi sasaran Amuk massa NU.

Perang politik Amin Rais upaya merebut massa NU, ketika sebagai calon Presiden dari PAN, membuat Amin Rais menggelar pertemuan dengan para masyayikh NU, terutama rekomondasi dari syaikh Alwi Almaliki yang menyebut Amin Rais sebagai Rajulun Sholeh, dijadikan partai Pan buat mempengaruih NU, tetapi tidaklah sebagaimana yang diharapkan oleh Pan. Pak harus gagal, karena fatwa fatwa Kyai NU menyebut amin Rais waktu itu pengkhianat.

Munculnya Said Aqil Siroj dan Dien Syamsuddin menjadi figur di organisasi masing masing, cukup mengesankan antara dua pemikir yang berbeda haluan. Dien Syamsuddin yang lantang dan keras mengkritisi Pemerintah dan Said Aqil siroj yang lebih mendekati penguasa dengan banyak mendukung dan membenarkan sikap penguasa. Dua sosok idola ormas yang berbeda itu mengantar masing masing ormas sebagai tolak ukur. Visi NU sejak jaman "Nasakom" mencerminkan sebuah pemikiran yangh afiliatif kekuasaan dan Muhammadiyah menempatkan oposan yang mengawal kekuasan agar tidak melenceng.

Era Haedar Nashir dan Said Aqil Siroj, adalah era pertarungan baru, ketika trensains NU berdiri dan Trensains Muhammadiyah sedang mengepakkan sayapnya. Apa motivasinya jelas berbeda. antara Quran dan Sunnah vs Ijama Ulama. Pemikiran yang disandarkan pada refrensi pendapat pendapat ulama Vs aktualisasi saintis Islam langsung dengan melakukan penelitian terhadap Quran dan sunah. Muncul juga tarjih Muhammadiyah dengan fatwanya yang menyoroti amalan adat Vs fatwa Bahtsul masail NU yang membenarkan perkara adat...akankah terus berlanjut....

Nah, di atas itu adalah mengenai awal mula persaingan antara Muhammadiyah dan NU.


Lalu NU dan Muhammadiyah mana yang benar???

Muhammadiyah dan NU adalah organisasi, bukan masalah fiqh. Hanya dalam konteks Indonesia, Muhammadiyah dan NU adalah mewakili 2 golongan besar umat Islam secara fiqh juga. Muhammadiyah mewakili kelompok "modernis" (begitu ilmuwan menyebut), yang sebenarnya ada beberapa organisasi yang memiliki pandangan mirip seperti Persis (Persatuan Islam), Al-Irsyad, Sumatra Tawalib. Sedang NU (Nahdhatul Ulama) mewakili kelompok "tradisional", selain Nahdhatul Wathan, Jami'atul Washliyah, Perti, dll.

Kedua organisasi memiliki berbagai perbedaan pandangan. Dalam masyarakat perbedaan paling nyata adalah dalam berbagai masalah furu' (cabang). Misalnya Muhamadiyah melarang (bahkan membid'ahkan) bacaan Qunut di waktu Shubuh, sedang NU mensunahkan, bahkan masuk dalam ab'ad yang kalau tidak dilakukan harus melakukan sujud syahwi, dan berbagai masalah lain. (kunjungi masalah khilafiah)

Alhamdulillah, perbedaan pandangan ini sudah tidak menjadikan pertentangan lagi, karena kedewasaan dan toleransi yang besar dari keduanya.
Pandangan antara keduanya memang berasal dari "madrasah" (school of thought) berbeda, yang sesungguhnya sudah terjadi sangat lama. Muhammadiyah (lahir 1914, didirikan oleh KH Ahmad Dahlan) adalah lembaga yang lahir dari inspirasi pemikir-pemikir modern seperti Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Rida (yang sangat rasional) sekaligus pemikir salaf (yang literalis) seperti Ibn Taymiah, Muhammad bin Abdul Wahab. Wacana pemikiran modern misalnya membuka pintu ijtihad, kembali kepada Quran dan Sunah, tidak boleh taqlid, menghidupkan kembali pemikiran Islam. Sedang wacana salaf adalah bebaskan takhayul, bid'ah dan khurafat (TBC). Tetapi dalam perkembangan yang dominan --terutama di grass rootnya-- adalah wacana salaf. Sehingga Muhammadiyah sangat bersemangat dengan tema TBC. Yang menjadi masalah, banyak dari kategori TBC tersebut justru diamalkan di kalangan NU, bahkan dianggap sebagai sunah. Karena sifatnya yang dinamis, praktis dan rasional, Muhammadiyah banyak diikuti oleh kalangan terdidik dan masyarakat kota.

Di sisi lain NU (Nahdhatul Ulama, didirikan antara lain oleh KH Hasyim Asy'ari, 1926), lahir untuk menghidupkan tradisi bermadzhab, mengikuti ulama. Sedikit banyak kelahiran Muhammadiyah memang memicu kelahiran NU. Berbeda dengan Muhammadiyah, pengaruh NU sangat nampak di kalangan pedesaan.

Sebenarnya KH A Dahlan dan KH Hasyim Asy'ari sama-sama pernah berguru kepada Syaikh Ahmad Katib Minangkabawi, ulama besar madzhab Syafi'i di Makkah. Ketika bergaung pemikiran Abduh dan muridnya Rasyid Ridha di Mesir, KH A Dahlan sangat tertarik dan mengembangkannya di Indonesia. Sedang KH Hasyim Asy'ari justru kritis terhadap pemikiran mereka...

Berikut secara ringkas perbedaan pandangan di antara keduanya:

Masalah
NU
Muhammadiyah
Aqidah
(Keduanya masih dalam bingkai Ahlu Sunah)
Mengikuti paham Asy'ariah/Maturidiah
Mengikuti paham salaf/Wahabi* (Ibn Taymiah, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibn Qayyim)
Fiqh
Keharusan mengikuti salah satu madzhab (terutama Syafi'i)
Langsung kepada Al-Quran dan Sunah, dan tarjih (memilih pendapat yang terkuat)
Tasauf/tarikat
Menerima tasauf, dan tariqah yang mu'tabar (diakui)
Menolak tasauf dan tariqah
(tetapi banyak yang apresitif secara individual dan selektif, misal HAMKA dengan tasauf modern-nya)
Pemikiran yang dominan
Pemikir klasik : Asy'ari, Al-Ghazali, Nawawi, dll
Ibn Taymiah, Muhammad bin Abdul Wahab, Ibn Qayyim, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha
* Istilah Wahabi diberikan oleh kelompok lain, mereka sendiri lebih menyukai disebut muwahidin (orang yang mengesakan)

Bedanya Apa???
Memperbincangkan tentang ranah perbedaan antara kedua organisasi sosial keagaan, yakni NU dan Muhammadiyah, bukan untuk menambah problem yang timbul sebagai akibat perbedaan itu, melainkan justru sebaliknya, agar semakin mendekatkannya. Sebab ternyata dengan perbedaan itu, selain ada untungnya, dalam hal-hal tertentu, ternyata merugikan kedua belah pihak dan bahkan semuanya.

Salah satu contoh kecil kerugian itu adalah misalnya mengganggu silaturrahmi. Orang NU tidak begitu mudah diterima bekerja di lembaga Muhammadiyah, dan sebaliknya. Orang Muhammadiyah tidak mudah diterima di sebuah departemen, jika pimpinan departemen itu orang NU, dan juga sebaliknya. Padahal mencari tenaga professional kadang sangat sulit, namun masih dipersulit lagi oleh adanya perbedaan kultur atau organisasi keagamaan itu.

Jika hal demikian itu benar-benar terjadi, maka organisasi sosial keagamaan tidak terlalu menguntungkan. Ukuran kualitas seseorang menjadi bertambah dengan variabel yang tidak mudah dipenuhi. Misalnya, disebut berkualitas jika berasal dari paham keagamaan yang sama. Dengan begitu maka, organisasi sosial keagamaan justru menjadi sebab terjadinya keputusan rasional tidak dijalankan. Akhirnya keadaannya menjadi aneh, mencari calon tukang potong rambut saja bisa dilakukan secara obyektif, -----> mencari yang ahli; sementara, mencari calon rektor misalnya, harus memilih yang sealiran. Padahal yang terpilih akhirnya belum tentu kualitasnya lebih baik.

Contoh seperti itu, ternyata di mana-mana terjadi dan cukup banyak jumlahnya. Sebagai akibatnya, organisasi tidak berhasil dijalankan secara obyektif, rasional , dan terbuka, sebagaimana tuntutan organisasi modern. Organisasi menjadi tidak dinamis atau apalagi maju. Selain itu, pelayanan masyarakat menjadi tidak maksimal. Dampak negative itu akan dialami oleh masing-masing anggota organisasi yang bersangkutan, menjadi serba terbatas.

Perbedaan antara NU dan Muhammadiyah jika diperhatikan secara saksama, sebenarnya hanya berada pada ranah ritual saja. Lagi pula, aspek ritual itu juga tidak berada pada wilayah yang mendasar. Orang menyebutnya hanya pada aspek yang sifatnya cabang atau furu’. Perbedaan itu hanya di seputar bagaimana ritual itu dijalankan. Misalnya, jamaáh NU ketika shalat subuh melengkapi dengan qunut, sedangkan Muhammadiyah tidak.

Selain itu, NU ketika shalat jumát, adzannya dua kali, sedangkan Muhammadiyah hanya sekali saja. NU setelah shalat fardhu berdzikir bersama, sedangkan Muhajmmadiyah tidak. NU membiasakan membaca puji-pujian menjelang shalat berjamaáh, sedangkan Muhammdiyah tidak. Untuk menentuikan awal puasa atau mengakhirnya, Muhammadiyah lewat pendekatan hisab, sedangkan NU menggunakan rukyat. Hasilnya kadang sama, tetapi sekali-kali berbeda.

Persoalan ritual dalam Islam, sebenarnya adalah merupakan bagian kecil dari keseluruhan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad, atau dalam al Qurán itu sendiri. Dalam hal yang lebih luas, Islam mengajak umatnya menjalani kehidupan ini secara sempurna, mengembangkan semua aspek dalam dirinya. Islam mengajarkan bagaimana menggunakan akal pikirannya secara benar. Islam juga mengajarkan agar jiwa dan raganya menjadi sehat. Islam mengajarkan bagaimana agar ucapan, pikiran, hati, dan anggota badannya selalu dijaga agar bersih dan bahkan suci. Dalam Islam diajarkan tentang tazkiyatun nafs. Sedangkan kegiatan ritual, sekalipun sungguh amat penting, namun hanyalah merupakan bagian kecil dari ajaran Islam.

Apa saja yang terkait dengan ritual mestinya bukan diperdebatkan, melainkan seharusnya segera dijalankan. Berdedat soal ritual tidak akan membawa hasil, dalam arti diketemukan mana yang paling duluan diterima dan yang ditolak oleh Tuhan. Tidak akan ada seorang pun yang tahu bahwa ritualnya diterima atau ditolak. Penerimaan dan atau penolakan kegiatan ritual adalah hak prerogative Tuhan sendiri. Seseorang mungkin menang dalam berdebat, maka sebenarnya belum tentu benar-benar menang di hadapan Allah. Bisa saja yang terjadi justru sebaliknya, bahwa mereka yang kalah, karena ritualnya dilakukan secara lebih khusuk dan ikhlas justru diterima. Sebaliknya, pihak yang menang hanya akan mendapatkan kemenangannya di hadapan orang.

Ajaran Islam sedemikian luas, yaitu mengajarkan agar para umatnya kaya ilmu pengetahuan, menjadi manusia unggul dalam arti bertauhid, berhasil bisa dipercaya, dan selalu menjaga kesucian dalam semua aspek kehidupannya. Selain itu, Islam mengajarkan tentang tatanan sosial yang adil dan juga agar menjalankan semua pekerjaan atau amalnya secara professional atau beramal saleh. Dalam al Qurán disebutkan bahwa siapa yang beriman dan beramal saleh akan selamat hidupnya, baik di dunia maupun di akherat.

Sebenarnya boleh saja di mana-mana terjadi perbedaan atau bahkan berdebat. Tetapi hendaknya perdebatan itu dalam soal yang terkait dengan ilmu pengetahuan, membangun keadilan dan mencari cara yang tepat dalam beramal saleh. Sebab berbeda dalam ilmu pengetahuan dan lainnya itu akan melahirkan rakhmat. Artinya dengan perbedaan dan perdebatan itu justru pengetahuan dan pengalaman seseorang akan semakin bertambah. Akan tetapi, perbedaan dalam ritual secara berkepanjangan, yang didapat sebaliknya, yaitu umat akan terpecah dan bercerai berai sebagaimana yang tampak selama ini.

Perbedaan dalam beritual sebenarnya sudah terjadi sejak zaman nabi. Banyak kisah tentang itu, misalnya menyangkut tentang pelaksanaan shalat dan bahkan juga haji. Setiap ada perbedaan di antara para sahabat segera dikonsultasikan langsung kepada Nabi. Maka, jika ada pengaduan seperti itu, selalu saja Nabi membenarkan semuanya. Artinya semua yang telah dilakukan oleh sahabat dalam menjalankan ritual dibolehkan dan atau dibenarkan. Oleh karena itu, maka dengan perbedaan ritual itu sebenarnya tidak perlu masing-masing mengklaim, bahwa diri atau kelompoknya yang paling benar.

Dalam soal ritual, asalkan masih berada pada frame atau kerangka pokoknya, semua dibolehkan. Sedangkan menyangkut cara yang detail-detail tidak perlu harus diperdebatkan. Kalaupun harus ada yang dipersoalkan adalah menyangkut kekhusukannya. Sebab Nabi dalam suatu riwayat, pernah menyuruh salah seorang untuk mengulangi shalatnya, karena dinilai kurang khusu’. Ternyata, bukan terkait dengan persoalan yang sering diperdebatkan selama ini. Akhirnya, jika hal seperti itu dipahami dan dihayati bersama, maka kewajiban agar supaya umat Islam selalu menjaga persatuan akan berhasil dijalankan. Wallahu a’lam.

Nah, Apa saja persamaan NU dan Muhammadiyah ?

KH. Ahmad Dahlan dan Kh. Hasyim Asy’ari itu sekawan, sama-sama menunut ilmu agama di Arab Saudi. Sama-sama ahli hadits dan sama-sama ahli fikih. Saat hendak pulang ke tanah air, keduanya membuat kesepakatan menyebarkan Islam menurut skil dan lingkungan masing-masing. Kiai Ahmad bergerak di bidang dakwah dan pendidikan perkotaan, karena berasal dari Kuto Ngayogyokarto. Sementara Kiai Hasyim memilih pendidikan pesantren karena wong ndeso, Jombang. Keduanya adalah orang hebat, ikhlas dan mulia.

Keduanya memperjuangkan kemerdekaan negeri ini dengan cara melandasi anak bangsa dengan pendidikan dan agama. Kiai Ahmad mendirikan organisasi Muhammadiyah dan Kiai Hasyim mendirikan Nahdlatul Ulama (NU). Saat beliau berdua masih hidup, tata ibadah yang diamalkan di masyarakat umumnya sama meski ada perbedaan yang sama sekali tidak mengganggu. Contoh kesamaan praktek ibadah kala itu antara lain:

1. Shalat Tarawih sama-sama 20 rakaat. Kiai Ahmad Dahlan sendiri disebut-sebut sebagai imam shalat Tarawih 20 rakaat di Masjid Syuhada Yogya.
2. Talqin mayit di kuburan, bahkan ziarah kubur dan kirim doa dalam Yasinan dan tahlilan.
3. Baca doa Qunut Shubuh.
4. Sama-sama gemar membaca shalawat (Diba’an).
5. Dua kali khutbah dalam shalat Ied, Iedul Fithri dan Iedul Adha.
6. Tiga kali takbir, “Allah Akbar”, dalam takbiran.
7. Kalimat iqamah (qad qamat ash-shalat) diulang dua kali.
8. Dan yang paling monumental adalah itsbat hilal, sama-sama pakai rukyah. Yang terakhir inilah yang menarik direnungkan, bukan dihakimi mana yang benar dan mana yang salah.

Semua amaliah tersebut di atas berjalan puluhan tahun dengan damai dan nikmat. Semuanya tertulis dalam kitab Fiqih Muhammadiyah yang terdiri dari 3 jilid, yang diterbitkan oleh: Muhammadiyah Bagian Taman Pustaka Jogjakarta, tahun 1343-an H. Namun ketika Muhammadiyah membentuk Majlis Tarjih, di sinilah mulai ada penataan praktek ibadah yang rupanya “harus beda” dengan apa yang sudah mapan dan digariskan oleh pendahulunya. Otomatis berbeda pula dengan pola ibadahnya kaum Nahdhiyyin. Perkara dalail (dalil-dalil), nanti difikir bareng dan dicari-carikan.

Disinyalir, tampil beda itu lebih dipengaruhi politik ketimbang karena keshahihan hujjah atau afdhaliah ibadah. Untuk ini, ada sebuah tesis yang meneliti hadits-hadits yang dijadikan rujukan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam menetapkan hukum atau pola ibadah yang dipilih.

Setelah uji takhrij berstandar mutawassith, kesimpulannya adalah: bahwa mayoritas hadits-hadits yang dipakai hujjah Majlis Tarjih adalah dha’if. Itu belum dinaikkan pakai uji takhrij berstandar mutasyaddid versi Ibn Ma’in. Hal mana, menurut mayoritas al-Muhadditsin, hadis dha’if tidak boleh dijadikan hujjah hukum, tapi ditoleransi sebagai dasar amaliah berfadhilah atau fadhail al-a’mal. Tahun 1995an, Penulis masih sempat membaca tesis itu di perpustakaan Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Soal dalil yang dicari-carikan kemudian tentu berefek pada perubahan praktek ibadah di masyarakat, kalau tidak disebut sebagai membingungkan. Contoh, ketika Majlis Tarjih memutuskan jumlah rakaat shalat Tarawih 8 plus 3 witir, bagaimana prakteknya?

Awal-awal instruksi itu, pakai komposisi: 4, 4, 3. Empat rakaat satu salam, empat rakaat satu salam. Ini untuk Tarawih. Dan tiga rakaat untuk Witir. Model Witir tiga sekaligus ini versi madzhab Hanafi. Sementara wong NU pakai dua-dua semua dan ditutup satu Witir. Ini versi asy-Syafi’i.

Tapi pada tahun 1987, praktek shalat Tarawih empat-empat itu diubah menjadi dua-dua. Hal tersebut atas seruan KH. Shidiq Abbas Jombang ketika halaqah di Masjid al-Falah Surabaya. Beliau tampilkan hadits dari Shahih Muslim yang meriwayatkan begitu. Karena, kualitas hadits Muslim lebih shahih ketimbang hadits empat-empat, maka semua peserta tunduk. Akibatnya, tahun itu ada selebaran keputusan Majlis Tarjih yang diedarkan ke semua masjid dan mushalla di lingkungan Muhammadiyah, bahwa praktik shalat Tarawih pakai komposisi dua-dua, hingga sekarang, meski sebagian masih ada yang tetap bertahan pada empat-empat. Inilah fakta sejarah.

Kini soal itsbat hilal pakai rukyah. Tolong, lapangkan dada sejenak, jangan emosi dan jangan dibantah kecuali ada bukti kuat. Semua ahli falak, apalagi dari Muhammadiyah pasti mengerti dan masih ingat bahwa Muhammadiyah dulu dalam penetapan hilal selalu pakai rukyah bahkan dengan derajat cukup tinggi. Hal itu berlangsung hingga era orde baru pimpinan Pak Harto. Karena orang-orang Muhammdiyah menguasai Departemen Agama, maka tetap bertahan pada rukyah derajat tinggi, tiga derajat ke atas dan sama sekali menolak hilal dua derajat. Dan inilah yang selalu dipakai pemerintah. Sementara ahli falak Nadhliyyin juga sama menggunakan rukyah tapi menerima dua derajat sebagai sudah bisa dirukyah. Dalil mereka sama, pakai hadits rukyah dan ikmal.

Oleh karena itu, tahun 90-an, tiga kali berturut-turut orang NU lebaran duluan karena hilal dua derajat nyata-nyata sudah bisa dirukyah, sementara Pemerintah-Muhammadiyah tidak menerima karena standar yang dipakai adalah hilal tinggi dan harus ikmal atau istikmal. Ada lima titik atau lebih tim rukyah gabungan menyatakan hilal terukyah, tapi tidak diterima oleh Departemen Agama, meski pengadilan setempat sudah menyumpah dan melaporkan ke Jakarta. Itulah perbedaan standar derajat hilal antara Muhammadiyah dan NU. Masing-masing bertahan pada pendiriannya.

Setelah pak Harto lengser dan Gus Dur menjadi presiden, orang-orang Muhammadiyah berpikir cerdas dan tidak mau dipermalukan di hadapan publiknya sendiri. Artinya, jika masih pakai standar hilal tinggi, sementara mereka tidak lagi menguasai pemeritahan, pastilah akan lebaran belakangan terus. Dan itu berarti lagi-lagi kalah start dan kalah cerdas. Maka segera mengubah mindset dan pola pikir soal itsbat hilal. Mereka tampil radikal dan meninggalkan cara rukyah berderajat tinggi. Tapi tak menerima hilal derajat, karena sama dengan NU.

Lalu membuat metode “wujud al-hilal”. Artinya, pokoknya hilal menurut ilmu hisab atau astronomi sudah muncul di atas ufuk, seberapapun derajatnya, nol koma sekalipun, sudah dianggap hilal penuh atau tanggal satu. Maka tak butuh rukyah-rukyahan seperti dulu, apalagi tim rukyah yang diback up pemerintah. Hadits yang dulu dielu-elukan, ayat al-Quran berisikan seruan “taat kepada Allah, RasulNya dan Ulil Amri” dibuang dan alergi didengar. Lalu dicari-carikan dalil baru sesuai dengan selera.

Populerkah metode “wujud al-hilal” dalam tradisi keilmuwan falak? Sama sekali tidak, baik ulama dulu maupun sekarang.

Di sini, Muhammdiyah membuat beda lagi dengan NU. Kalau dulu, Muhammadiyah hilal harus derajat tinggi untuk bisa dirukyah, hal mana pasti melahirkan beda keputusan dengan NU, kini membuang derajat-derajatan secara total dan tak perlu rukyah-rukyahan. Menukik lebih tajam, yang penting hilal sudah muncul berapapun derajatnya. Sementara NU tetap pada standar rukyah, meski derajat dua atau kurang sedikit. Tentu saja beda lagi dengan NU. Maka, selamanya takkan bisa disatukan, karena sengaja harus tampil beda. Dan itu sah-sah saja.

Dilihat dari fakta sejarah, pembaca bisa menilai sendiri sesungguhnya siapa yang sengaja membuat beda, sengaja tidak mau dipersatukan, siapa biang persoalan di kalangan umat?

Menyikapi lebaran dua versi, warga Muhammadiyah pasti bisa tenang karena sudah biasa diombang-ambingkan dengan perubahan pemikiran pimpinannya. Persoalannya, apakah sikap, ulah atau komentar mereka bisa menenangkan orang lain?

Perkara dalil nash atau logika, ilmu falak klasik atau neutik, rubu’ atau teropong modern sama-sama punya. Justeru, bila dalil-dalil itu dicari-cari belakangan dan dipaksakan, sungguh mudah sekali dipatahkan.

Hebatnya, semua ilmuwan Muhammadiyah yang akademis dan katanya kritis-kritis itu bungkam dan tunduk semua kepada keputusan Majlis Tarjih. Tidak ada yang mengkritik, padahal kelemahan akademik pasti ada.

Mau tau penjelasan Cak Nun ?

Cak Nun: Muhammadiyah Itu NU, NU Itu Muhammadiyah

Kehadiran budayawan nasional Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun pada kegiatan 'Sinau Nuzulul Quran' di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ahad (5/7) malam, benar-benar memberi warna baru bagi warga Kota Malang. Itu terlihat jalannya acara sangat cair karena Cak Nun mampu meleburkan pengkotak-kotakan Islam secara sektarian menyatu dalam nilai-nilai universal Alquran.

“Partai politik itu yang bikin siapa, manusia. Muhammadiyah itu yang bikin siapa, manusia. NU (Nahdlatul Ulama) itu yang bikin siapa, manusia. Islam itu yang bikin siapa, Allah. Alquran itu yang bikin siapa, Allah. Makanya ojo dumeh (jangan mentang-mentang). Kita sebagai manusia jangan merasa yang paling benar,” kata Cak Nun.

Bagi Cak Nun, Muhammadiyah dan NU bisa menjadi kekuatan keagamaan terbesar yang mampu mengalahkan kekuatan apapun. “Yang penting Muhammadiyah kompak, NU kompak, dan masing-masing tau perannya apa bagi bangsa dan peradaban,” ujarnya.

Bahkan, Cak Nun menilai bahwa Muhammadiyah dan NU itu sebenarnya tidak ada bedanya, karena Muhammadiyah itu artinya berkarakter Muhammad sementara NU bermakna kebangkitan ulama.

“Jadi kalau sudah ikut Muhammadiyah, otomatis jadi NU, jadi ulama. Sebaliknya, kalau ikut NU puncaknya ya jadi Muhammadiyah, berkarakter Muhammad. Jadi ayo bareng-bareng bangun Indonesia,” tuturnya yang disambut applause ribuan hadirin.

Terlebih, kata Cak Nun, Muhammadiyah dan NU akan sama-sama mengadakan Muktamar pada Agustus mendatang. “Semoga pada Muktamar nanti terpilih para panglima jihad yang siap melakukan revolusi kebaikan bagi segenap umat,” harapnya.

Lebih lanjut, Cak Nun menjelaskan, aktualisasi nilai-nilai Alquran bisa dilakukan dengan banyak cara. “Memberi nafkah pada keluarga, menolong orang lemah, membangun kampus yang menjadi laboratorium generasi pemimpin dunia, itu sama saja mengamalkan Alquran. Saya doakan, saya mohon pada Allah agar pahalanya dinilai sama dengan yang mengkhatamkan Alquran.”

Nah sekarang... Mau pilih mana, NU atau Muhammadiyah?

Sebagai umat Islam, sering kita berhadapan dengan pertanyaan pertanyaan dilematis saat harus menentukan sikap. Manakah yang sesungguhnya benar, Sunni atau Syiah?, Qodariyah atau Jabariyah? Berjuang lewat politik atau via budaya? NU atau Muhammadiyah? Ortodoks atau Liberal? Ustad Abu Bakar Ba'asyir atau Gus Dur?, dan banyak lagi contoh semacam itu.

Banyak yang menganggap, bahwa perbedaan perbedaan tersebut tidak ada masalah. Namun dalam sejarahnya, perbedaan itu justru menimbulkan banyak pertentangan. Pilihan yang kita ambil sangat menentukan sikap keberagamaan kita. Sering sikap ini menarik garis tegas antara siapa kawan dengan siapa yang bukan kawan, siapa kelompok mana dan bagaimana.

Para fuqoha (ahli hukum) selalu membahas masalah ini saat berhadapan dengan hasil ijtihad (gagasan) yang beraneka macam dan saling bertentangan. Yang satu menyatakan mengenakan jilbab adalah wajib, sedangkan yang lain menyatakan tidak wajib. Apakah pendapat ini semua benar atau hanya satu saja yang benar?

Ada kelompok yang naif dengan sederhana menyatakan : kembalikan kepada Al Qur'an dan Hadist sebagai pemutus! Resep ini mudah diucapkan tapi hampir mustahil dilaksanakan. Bukankah Sunni, Syiah, NU, Muhammadiyah sama sama merujuk Al Qur'an dan Hadist?. Bukankah ustad Abu Bakar Ba'asyir dan Gus Dur juga sama sama mengambil sumber dari Al Qur'an serta mencontoh perjuangan Nabi saw dalam merumuskan dasar dasar perjuangannya?

Ada doktrin moral atau hukum dalam Islam yang sangat kokoh yang hampir tidak ada retaknya serta telah disepakati semua umat muslim, seperti Rukun Islam, Rukun Iman, Asmaul Husna dan banyak lagi. Semua ulama sepakat bahwa kebenaran cuma satu yaitu hanya milik Tuhan.

Namun ada juga wilayah grey area yang bermasalah dan menjadi polemik berkepanjangan. Untuk mengatasi hal ini, sebenarnya, hampir semua kitab ushul al fiqh (prinsip prinsip yurisprudensi Islam) telah memberikan dua buah jalan keluar. Entah kenapa para ulama sekarang jarang membicarakan masalah ini. Apakah memang sudah lupa atau untuk mempertahankan kepentingan kelompok masing masing ,tidak jelas benar.

Pertama adalah al takhthi'ah. Pendapat ini menyatakan bahwa hanya satu yang benar, semuanya salah. Semua hukum sudah ditetapkan Allah sebelum manusia berijtihad. Yang berhasil menemukannya mendapat dua pahala, yang gagal menemukannya mendapat satu pahala. Gagasan ini melahirkan tradisi taklid (mengikuti doktrin madzab atau pendapat ulama) dalam dunia Islam. Ulama melanjutkan tradisi dari imam madzab panutannya, sedangkan orang awam mengikuti tradisi ulama mereka.

Kedua adalah at-tashwibah. Pendapat ini adalah menyatakan, bahwa semuanya benar. Untuk sebuah masalah yang tidak jelas hukumnya dan belum ada keputusan hukum tertentu yang bisa dijadikan acuan, maka kwajiban para mujtahid atau fuqoha (ahli hukum) untuk menetapkannya berdasarkan perkiraan perkiraan mereka. Karena semuanya berdasarkan perkiraan, maka semua ijtihad dianggap benar. Kalau toh bahwa hukum yang benar itu hanya Allah yang tahu, manusia tidak dibebani untuk menemukannya. Manusia tidak bersalah karena mereka memiliki keterbatasan.

Apakah dengan demikian kebenaran itu menjadi relatif? Tidak juga! Kebenaran tetap satu, dan itu menjadi milik Tuhan semata. Tetapi dia hadir kehadapan kita melalui berbagai wajah. Kehadiran NU dan Muhammadiyah, atau Sunni dan Syiah adalah pertemuan dua wajah kebenaran. Dua buah elemen yang saling melengkapi. Seperti kata Nietsche : aku hanya percaya kepada Tuhan yang bisa menari, sebuah kebenaran yang dinamis.

(dari berbagai sumber)

- Rey Arifin -
www.reyarifin.com

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook