Penting untuk Yang ingin Belajar Jurnalis ! Tak Cukup Modal Bisa Menulis, Jurnalis Juga Harus Jadi Analis


Bagi orang yang gemar dengan dunia kepenulisan, profesi jurnalis menjadi sebuah pilihan karir yang patut dipertimbangkan. Jurnalis menuliskan fakta dan menceritakan peristiwa yang bertujuan untuk memberikan informasi, mengedukasi, hingga memberikan hiburan kepada khalayak media, baik itu cetak, online, maupun penyiaran.
Akan tetapi, satu hal perlu digarisbawahi dari tugas seorang jurnalis sebagai seorang pewarta, baik melalui tulisan maupun lisan (jurnalis televisi, -red). Suka dan bisa menulis belum menjadi modal yang cukup. Satu yang terpenting, seorang jurnalis harus suka dan mengetahui apa yang harus ditulis.


Jurnalis mencerahkan masyarakat

Hal tersebut diungkapkan oleh Lisa Lindawati SIP, MA, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UGM saat diwawancara via email pada Sabtu (7/2) lalu. Ia menuturkan bahwa penting bagi seorang jurnalis untuk mengetahui apa yang harus ditulis, bukan sekadar suka dan bisa menulis.

“Tugas jurnalis tidak hanya menulis, tetapi juga melakukan analisis sekaligus memberikan perspektif yang mencerahkan masyarakat,”ujar Lisa. Menurutnya, hal tersebut terkait dengan peran jurnalis sebagai pembela kepentingan publik. Jurnalis berperan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai apa yang terjadi di sekitarnya sehingga masyarakat memahami apa yang bisa mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka.

Selain mengetahui apa yang harus ditulis, jurnalis juga perlu memahami dan menerapkan kode etik. “Jurnalis itu bukan hanya sekadar pekerjaan, tapi juga profesi. Maka, penting untuk memahami dan menerapkan kode etik jurnalistik,” ungkap Hendrawan Setiawan, Kepala Biro TV One Yogyakarta saat diwawancara pada Senin (9/2) lalu.

Menurutnya, penerapan kode etik jurnalistik menjadi sebuah langkah awal untuk memulihkan citra media di mata masyarakat. “Masyarakat sekarang banyak meng-underestimate media karena ada hal-hal terkait etika yang dilanggar oleh jurnalis,” tegasnya lagi.


Cerdas asah berbagai skill

Tak dapat dimungkiri, profesi jurnalis memiliki peran vital dalam memajukan masyarakat melalui informasi. Hal ini sekaligus meluruskan anggapan miring tentang jurnalis sebagai 'kuli tinta', yang tugasnya hanya sekadar datang ke suatu acara, menyodorkan tape recorder, kemudian menuliskan apa yang disampaikan oleh si narasumber. Peran jurnalis lebih dari sekadar 'perpanjangan tangan narasumber'. Oleh karena itu, siapapun yang ingin terjun di ranah profesi ini harus memiliki kemampuan yang mumpuni, yang mana tidak sebatas kemampuan menulis.

Lisa menyebutkan, setidaknya ada enam keahlian yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis. Keenam keahlian itu diantaranya, kemampuan mendefinisikan masalah, kemampuan riset untuk menggali informasi tentang suatu persoalan, kemampuan analisis, kemampuan menyampaikan fakta (tulisan/lisan), konsisten mengawali suatu isu, dan memahami kode etik.

Sementara di level praktis, Hendrawan menambahkan mengenai pentingnya seorang calon jurnalis untuk terus berlatih dan mengembangkan networking. “Pengetahuan teoretis tentang jurnalis dan jurnalisme tidak cukup menjadi bekal bagi seseorang untuk menjadi jurnalis profesional. Ia harus praktik dan terjun langsung dalam aktivitas jurnalisme dan mengembangkan networking,” tuturnya.

Menurutnya, seorang calon jurnalis harus memiliki kemampuan untuk menjembatani ketimpangan antara level teoretis dan praktis. “Selain untuk melatih kemampuan menyampaikan fakta, praktik peliputan juga berperan untuk memperkenalkan dunia kerja seorang jurnalis,” tambahnya. Aktif dalam berbagai organisasi, terkhusus pers mahasiswa (persma), merupakan jembatan awal untuk memberikan gambaran terhadap dunia kerja seorang jurnalis. Tak jarang, beberapa persma bahkan membangun jaringan dengan media-media lokal ataupun organisasi wartawan seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). “Dari persma, kita bisa memperluas networking,” lanjutnya.

Dengan mengetahui gambaran dunia kerja seorang jurnalis, otomatis seorang calon jurnalis memiliki kemampuan untuk menganalisis apa saja nilai jual yang perlu ditawarkan seorang fresh graduate untuk menjadi jurnalis profesional. “Dengan berpikir praktis dan pragmatis, seseorang bisa tahu apa sih yang dimaui di dunia kerja, atau tes seperti apa yang akan dihadapi oleh seseorang yang ingin masuk ke industri televisi,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa seseorang harus berani dan punya kemampuan untuk ‘menjual diri’ saat memasuki dunia kerja.

Pada dasarnya, siapapun bisa menjadi jurnalis. Latar belakang pendidikan bukan hambatan besar karena salah satu yang penting adalah passion untuk menjadi jurnalis itu sendiri, memahami fungsi dan perannya di masyarakat, dan memahami etika profesi. “Jadilah jurnalis yang independen dan beretika. Karena etika seorang jurnalislah yang mampu memulihkan rasa pesimisme masyarakat akan media,” pungkas wartawan yang sudah sebelas tahun berkecimpung di jagat pers ini.

Ingin tahu lebih lanjut soal hal-hal yang harus diketahui sebelum menjadi jurnalis? Intip di sini! Semoga artikel di atas juga dapat memberikanmu pencerahan untuk pilihan berkarir di masa depan ya. [CN]

Penulis : Grattiana Timur
Editor : Rifki Amelia F, M. Amin Amsyah
Grafis : Tongki A.W.

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook