Akademisi vs Praktisi



Di dunia teknologi informasi ada dua golongan yang mempunyai sifat yang sangat unik terutama dalam menyelesaikan pekerjaan, project, dan tugas-tugas lain yang berhubungan dengan teknologi informasi. Ya,, mereka adalah Akademisi dan Praktisi, selama pengalaman saya berkecimpung didunia teknologi informasi saya telah banyak bertemu dan berhubungan langsung dengan 2 kebribadian ini. Jika saya dapat simpulkan berikut adalah ciri-ciri nya:

Ciri-ciri orang Akademisi:
1. Mengejerkan pekerjaan/project dengan cara struktural dengan langkah-langkah yang baku dari dunia akademis.
2. Selalu formal dengan penulisan laporan/report dengan tulisan yang baku dari dunia akademis.
3. Belajar dari teori-teori ilmiah yang ada pada dunia akademis, mengerti konsep namun ketika pada implementasinya merasa kesulitan.

Dapat disimpulkan bahwa orang akademisi lebih mengerti banyak konsep namun sulit dalam implementasi, orang akademisi akan sulit untuk terjun langsung dalam lapangan namun sangat cocok sebagai konseptor sebuah project.

Ciri-ciri orang Praktisi:
1. Mengerjakan project secara langsung dengan langkah-langkah yang fleksible dan tanpa terpaku oleh langkah-langkah yang ada pada teori akademisi.
2. Selalu menuliskan report dengan tidak formal, yang penting orang lain mengerti dalam memabaca laporannya.
3. Belajar dari teori dan pengalaman yang didapat dilapangan, namun lebih orang praktisi lebih banyak belajar dari lapangan.

Dapat disimpulkan bahwa orang praktisi akan lebih mudah terjun kelapangan dalam mengerjakan sebuah project, orang praktisi cocok menjadi team lead dalam sebuah project karena keuntingan tipe praktisi adalah dapat cepat menyelesaikan masalah/troubleshooting secara cepat.

Hubungannya dengan pendidikan:
2 sifat ini bisa kita hubungkan dengan dunia pendidikan khususnya dalam dunia perguruan tinggi, dalam dunia pendidikan ada Dosen yang hanya pintar teori dan biasanya tipe dosen ini hanya banyak bicara ketimbang prakteknya… karena yang dia bicarakan adalah selalu teori-teori dan teori tanpa mengaitkan kedalam studi kasus pada dunia nyata seperti apa yang dilakukan seorang dosen yang praktisi.

jadi, bagus mana sih dosen yang praktisi atau akademisi?
INGAT,,, “seorang akademisi belum tentu ia seorang praktisi, namun seorang praktisi pasti dia seorang akademisi”.

Dunia pendidikan akan lebih maju, ketika dosen yang ada pada perguruan tinggi adalah kombinasi dari seorang praktisi dan akademisi, ketika mengikuti mata kuliah dari seorang dosen yamg memang seorang praktisi… saya merasakan lebih enak dengan pemahaman materi yang diberikan oleh dosen tersebut karena ia selalu akan mengaitkan dengan dunia nyata dilapangan.

Comment dari beberapa teman

Christiansyah Sembiring:
saling melengkapi..komplementer..biar gak makan teori melulu…satu teori+satu praktik..mantap bgt maknyussss..it is a perfect combination for our education no matter what..we’re really need it….trust me…

Kurniawan Aja(Founder Yogya Free): Yup saling melengkapi, mengapa teori analisis biasanya mempunyai porsi jauh lebih besar pada tingkatan atas seperti misal doctoral, dengan teori analisis mendalam diharapkan muncul teori atau metode baru yang lebih baik atau paling tidak ada yang baru, sehingga praktek tinggal mengikuti saja, kalau dari praktek saja tanpa pendalaman teori atau metode maka akan sulit berkembang..

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook