Selasa, 25 Oktober 2016

Filosofi Gula dan Kopi, Agar Kita Menjadi Pribadi Pemaaf dan Ikhlas

Tags



Jika kopi terlalu pahit, siapa yang disalahkan?
Gula, karena terlalu sedikit.

Jika kopi terlalu manis, siapa yang disalahkan?
Gula, karena terlalu banyak.

Jika takaran kopi dan gula seimbang, siapa yang dipuji?
Tentu semua akan berkata, “Kopinya mantap.”
Di mana gula yang berandil membuat rasa kopi menjadi mantap?

Mari ikhlas seperti gula, yang larut tak terlihat tapi sangat bermakna.

Gula pasir memberi rasa manis pada kopi, tapi orang menyebutnya “kopi manis”, bukan “kopi gula”.

Gula pasir memberi rasa manis pada teh, tapi orang menyebutnya “teh manis”, bukan “teh gula”.

Orang menyebut “roti manis”, bukan “roti gula”.

Orang menyebut “sirup pandan”, “sirup apel”, “sirup jambu”, padahal bahan dasarnya gula. Tapi gula tetap ikhlas larut dalam memberi rasa manis.

Apabila berhubungan dengan penyakit, barulah gula disebut: “penyakit gula”.

Begitulah hidup..
Kadang-kadang kebaikan yang kita tanam tak pernah disebut orang, tapi kesalahan akan dibesar-besarkan..

Ikhlaslah seperti gula..
Larutlah seperti gula..

Tetaplah semangat memberi kebaikan..
Tetaplah semangat menyebar kebaikan..

Karena kebaikan tidak untuk disebut, tapi untuk dirasakan..

- Rey Arifin -

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia dan Komunitas Blogger Indonesia.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.


EmoticonEmoticon