Kepala BKD Kab. Malang SUWANDI Ditangkap Polisi Karena Terima Pungli (Suap/Sogokan) dari PNS

Sepertinya instruksi Presiden Jokowi mengenai pemberantasan koruptor dan pungli (pungutan liar) di wilayah Indonesia sudah terasa hingga di Kabupaten Malang.

Baca : Presiden Jokowi Luncurkan Sistem "LAPORKAN PUNGLI OKNUM PNS/PEMERINTAH" Secara Online !

Seperti yang diberitakan berbagai media online, Kepala BKD yang juga mantan Kepala Diknas Kabupaten Malang Suwandi diciduk polisi melalui operasi tangkap tangan (OTT) akibat melakukan pungli (pungutan liar) kepada PNS.

Berikut berbagai beritanya yang telah dimuat di 3 media online :

Kepala BKD Kab. Malang Suwandi Ditangkap Polisi karena Terbukti Terima Pungli

Kepala BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Kabupaten Malang dan juga Mantan Kepala Diknas (Dinas Pendidikan) Kabupaten Malang Suwandi diciduk polisi di rumahnya di Kota Malang. Dia tertangkap tangan petugas Polres Malang Kota saat menerima uang pungli sebesar Rp 3 juta.

Dia ditangkap di rumahnya sekitar pukul 18.30 pada Selasa (25/10/2016) malam lalu. Berdasarkan informasi yang didapat, Suwandi sudah menerima uang sebanyak tiga kali. Yang pertama, dia sudah menerima uang sebesar Rp 10 juta pada September lalu, sedangkan yang kedua menerima Rp 5 juta. Dan pada penerimaan ketiga sebesar Rp 3 juta. Saat menerima uang ketiga itulah, dia ditangkap saat berada di rumahnya.


(Foto Suwandi saat masih menjadi Kepala Diknas Kabupaten Malang)

Ketika itu, dia menerima uang dari seorang pegawai negeri sipil (PNS) di Kalimantan Selatan yang ingin pindah menjadi pegawai di lingkungan Pemkab Malang. Nah, pegawai yang bersangkutan bisa masuk dan bekerja menjadi PNS Pemkab Malang asalkan mendapatkan izin dari pemerintah setempat.

Agar keinginan pegawai Kalimantan Selatan tersebut berjalan lancar, maka yang bersangkutan mensyaratkan agar ada uang pelicin. Diperkirakan, kasus uang pelicin untuk mutasi ini bukan pertama kali dilakukan oleh Suwandi yang merupakan mantan kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. Dua ponsel Suwandi, saat ini tidak bisa dihubungi. Kedua ponselnya, semua non aktif dan sudah disita polisi sebagai barang bukti.

Setelah menangkap tangan pria yang akan pensiun tahun depan tersebut, polisi langsung mengeler Suwandi ke kantornya di BKD. Berdasarkan kabar yang beredar, di kantornya juga ditemukan uang puluhan juta rupiah. Selain itu, polisi juga membawa berkas-berkas yang dianggap penting dan bisa menjadi bukti.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi dari atasan Suwandi. Bupati Malang Dr Drs Rendra Kresna BcKU, SH, MM, Wakil Bupati Malang H. Sanusi, dan Sekda Kabupaten Malang Dr Abdul Malik tak bisa dihubungi. Ada nada sambung, namun telepon dari MALANGTIMES tak diangkat.

Sementara itu, Kasubag Humas Polres Malang Kota AKP Nunung Anggraeni membenarkan polisi telah menangkap tangan Suwandi saat menerima pungli. "Memang benar, saat ini Polres Malang Kota masih mendalami kasus tersebut," terang Nunung saat dikonfirmasi melalui selulernya. [malangtimes.com]

---

Tersangka Pungli Suwandi Menyesal dan Terus Menangis 



Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Malang Suwandi rupanya sangat shock dengan operasi tangkap tangan yang dilakukan Polres Malang Kota. Dia tak menyangka bahwa kasus Rp 3 juta bakal menyeretnya ke tahanan Mapolresta Malang.

Saking shock-nya dengan kasus yang menimpa dirinya, menurut sumber MALANGTIMES, Suwandi terus-menerus menangis. Bahkan, pada saat akan disuruh tidur usai penyidikan, Suwandi meminta kepada petugas kepolisian agar dirinya jangan disuruh tidur di ruang tahanan.

"Tersangka meminta agar dibiarkan tidur di ruang penyidikan. Anaknya juga meminta agar ayahnya dibiarkan tidur di ruang penyidik," ucap salah satu sumber MALANGTIMES.

Sayangnya sampai berita ini diturunkan, belum ada satupun pihak keluarga yang bisa dihubungi.
Sementara itu, Kanit Pidsus Reskrim Polres Malang Ipda Rudy Widajanto enggan memberikan komentar ketika ditanya mengenai perkembangan pemeriksaan Suwandi. "Nanti akan ada penjelasan yang gamblang," kata Rudy.

Seperti diketahui, pada Selasa (25/10/2016) malam lalu, sekitar pukul 18.30, polisi telah menangkap tangan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Pemkab Malang Suwandi.

Dia ditangkap karena melakukan pungli kepada seorang guru di Kalimantan Selatan yang ingin pindah mengajar ke sebuah sekolah di Kabupaten Malang. Berdasarkan keterangan yang ada, guru tersebut telah menyerahkan uang sebanyak tiga kali. Pada penyerahan pertama, guru tersebut telah setor Rp 10 juta, kedua setor Rp 5 juta, dan ketiga akan menyetor Rp 3 juta.

Pada setoran ketiga inilah, Suwandi ditangkap tangan oleh Polres Malang Kota. Penangkapan tangan terhadap Suwandi dipimpin Kanit Pidsus Polres Malang Kota Ipda Rudy Widajanto. Suwandi ditagkap polisi sesaat setelah menerima uang setoran Rp 3 juta dari korban. "Awalnya guru tersebut ngobrol biasa dengan tersangka (Suwandi) di rumahnya di Jalan Soekarno-Hatta. Kemudian setelah ngomong, diserahkanlah uang tersebut. Beberapa saat kemudian, tim polisi masuk dan melakukan penangkapan," ujar salah satu sumber Malang Times.

Selanjutnya, dua ponsel Suwandi diamankan. Kemudian Suwandi dikeler ke kantor BKD Kabupaten Malang. Di kantor BKD, polisi juga menyita beberapa dokumen penting. Dan kabar yang beredar, polisi juga menemukan uang puluhan juta rupiah di kantor Suwandi. [malangtimes.com/foto suryamalang.com]

---

Kasus Suwandi Seret Pejabat Lain?



Berdasar penyelidikan sementara tim Pidsus Unit Reskrim Polres Malang Kota, kasus pemerasan yang menyeret Kepala BKD Kabupaten Malang, Suwandi, berpotensi menyeret pejabat lain.

Hal itu dijelaskan Kapolres Malang Kota, AKBP Decky Hendarsono, saat ditemui wartawan di kantornya, Sabtu (29/10). Menurutnya, Suwandi mengaku, uang hasil pemberian korban suami istri, JH dan DRS itu untuk koordinasi dengan pejabat terkait.

“Tapi tersangka masih sering bungkam, jadi butuh penyelidikan lebih lanjut,” katanya.

Sementara ini polisi sudah memeriksa tiga orang sebagai saksi termasuk korban.

Sebelumnya, korban meminta pindah tempat bekerja ke SMAN 1 Kepanjen dan satu lagi di Disdik Kabupaten Malang.

JH dan DRS menyetor dana pada Suwandi tiga kali pada Semptember lalu sebanyak Rp 18 juta, akan tetapi pada transaksi terakhir polisi keburu menyiduk tersangka di rumahnya, di kawasan Lowokwaru.

Atas penangkapan itu, polisi langsung menahan Suwandi dan dia dijerat Pasal 12 e UU Tipikor, dengan ancaman hukuman penjara maksimal 20 tahun penjara. [malangvoice.com]

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook