Nasionalisme vs Radikalisme



Sadar atau tidak Negara kita Indonesia punya banyak pedoman untuk bisa menguatkan rasa Nasionalisme dalam diri kita. Contoh pancasila,Pembukaan UUD, pelajaran-pelajaran sejarah yang sejak kecil sudah kita pelajari,seharusnya bisa menjadi hal-hal yang bisa membangkitkan rasa cinta untuk Indonesia. Teorinya paham,tapi penerapannya yang kurang. Hal terkecil seperti menghargai orang lain yag berbeda hobi atau berbeda pendapat saja kadang kita sulit.

Pada dasarnya semua orang pasti punya rasa cinta terhadap negaranya,tapi terkadang tidak tahu bagaimana memulainya. Penyebaran nilai-nilai nasionalisme dengancara yang lebih mengena untuk masyarakat bisa kita padukan dengan seni,teknologi dan lain-lain.

Di jaman yang semuanya serba modern ini kebanyakan orang-orang mengikuti tren,ntah aplikasi baru,tempat makan baru, semua di ikuti untuk sekedar aktif di sosial media. Sebenarnya dari tren kita bisa berbuat sesuatu yang berhubungan dengan nasionalisme. Memancing orang-orang untuk tetap mengikuti tren tapi ada nilai positif didalamnya.

Sayangnya,di jaman sekarang ini pula orang-orang yang memanfaatkan teknologi yang berbau nasionalisme digunakan untuk menyebarkan radikalisme. Cara-cara mereka lebih mudah untuk dilakukan,contohnya saja seseorang mau bunuh diri hanya karena ingin membantu saudara muslim di luar Indonesia,iming-iming menjadi pengantin di surga dan lainnya. Kita yang punya pemikiran melawan doktrin radikalisme harus lebih giat dan lebih kreatif untuk menangkal radikalisme.

Akar radikalisme bisa bermacam‑macam. Bisa disebabkan nafsu berkuasa, ketidakadilan, atau diskriminasi yang dialami sekelompok orang. Radikalisme yang didasarkan ideologi tertentu tidak lebih berbahaya dibandingkan radikalisme yang dilahirkan militerisme yang dilandasi nafsu berkuasa. Tidak lebih berbahaya dibanding radikalisme demokrasi, radikalisme budaya, etnik dsbnya. Bahkan di masa sekarang, radikalisme atau terorisme bisa dilakukan oleh negara ataupun orang per orang melalui teknologi.

Pemerintah,instansi pendidikan dan masyarakat luas harus bisa memilah informasi yang memprovokasi untuk melawan pemerintah atau informasi yang menagajak kita untuk lebih cinta Indonesia. Berdiskusi dengan orang lain yang lebih paham dan mencari lagi informasi sebanyak-banyak nya untuk lebih meyakinkan diri kita untuk percaya atau tidak dengan informasi tersebut.

Mari kita menyebarkan informasi yang membangun semangat nasionalisme kepada orang- orang terdekat atau siapa pun untuk negara tercinta kita Indonesia.

---

Tak bisa dimungkiri, pemuda adalah aset bangsa yang sangat berharga. Masa depan negeri ini bertumpu pada kualitas mereka. Namun ironisnya, kini tak sedikit kaum muda yang justru menjadi pelaku terorisme. Serangkaian aksiterorisme mulai dari Bom Bali-1, Bom Gereja Kepunton, bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton,hingga aksi penembakan Pos Polisi Singosaren di Solo dan Bom di Beji dan Tambora, melibatkan pemuda. Sebut saja, Dani Dwi Permana, salah satu pelaku Bom di JW Marriot dan Hotel Ritz-Carlton, yang saat itu berusia 18 tahun dan baru lulus SMA.

Fakta di atas diperkuat oleh riset yang dilakukan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP). Dalam risetnya tentang radikalisme di kalangan siswa dan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di Jabodetabek, pada Oktober 2010-Januari 2011, LaKIP menemukan sedikitnya 48,9 persen siswa menyatakan bersedia terlibat dalam aksi kekerasan terkait dengan agama dan moral. Bahkan yang mengejutkan, belasan siswa menyetujui aksi ekstrem bom bunuh diri tersebut.

Rentannya pemuda terhadap aksi kekerasan dan terorisme patut menjadi keprihatinan kita bersama. Banyak faktor yang menyebabkan para pemuda terseret ke dalam tindakan terorisme, mulai dari kemiskinan, kurangnya pendidikan agama yang damai, gencarnya infiltrasi kelompok radikal, lemahnya semangat kebangsaan, kurangnya pendidikan kewarganegaraan, kurangnya keteladanan, dan tergerusnya nilai kearifan lokal oleh arus modernitas negatif. Apapun faktor yang melatari, adalah tugas kita bersama untuk membentengi mereka dari radikalisme dan terorisme. Untuk membentengi para pemuda dan masyarakat umum dari radikalisme dan terorisme, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menggunakan upaya pencegahan melalui kontra-radikalisasi (penangkalan ideologi). Hal ini dilakukan dengan membentuk Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) di daerah, Pelatihan anti radikal-terorisme bagi ormas, Training of Trainer (ToT) bagi sivitas akademika perguruan tinggi, serta sosialiasi kontra radikal terorisme siswa SMA di empat provinsi.

Di atas upaya-upaya kongkrit di atas, sejatinya ada beberapa hal yang patut dikedepankan dalam pencegahan terorisme di kalangan pemuda. Pertama, memperkuat pendidikan kewarganegaraan (civic education) dengan menanamkan pemahaman yang mendalam terhadap empat pilar kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Melalui pendidikan kewarganegaraan, para pemuda didorong untuk menjunjung tinggi dan menginternalisasikan nilai-nilai luhur yang sejalan dengan kearifan lokal seperti toleransi antar- umat beragama, kebebasan yang bertanggungjawab, gotong royong, kejujuran, dan cinta tanah air sertakepedulian antar-warga masyarakat.

Kedua, mengarahkan para pemuda pada beragam aktivitas yang berkualitas baik di bidang akademis, sosial, keagamaan, seni, budaya, maupun olahraga. Kegiatan-kegiatan positif ini akan memacu mereka menjadi pemuda yang berprestasi dan aktif berorganisasi di lingkungannya sehingga dapat mengantisipasi pemuda dari pengaruh ideologi radikal terorisme.

Ketiga, memberikan pemahaman agama yang damai dan toleran, sehingga pemuda tidak mudah terjebak pada arus ajaran radikalisme. Dalam hal ini, peran guru agama di lingkungan sekolah dan para pemuka agama di masyarakat sangat penting. Pesan-pesan damai dari ajaran agama perlu dikedepankan dalam pelajaran maupun ceramah-ceramah keagamaan.

Keempat, memberikan keteladanan kepada pemuda. Sebab, tanpa adanya keteladanan dari para penyelenggara negara, tokoh agama, serta tokoh masyarakat, maka upaya yang dilakukan akan sia-sia. Para tokoh masyarakat harus dapat menjadi role model yang bisa diikuti dan diteladani oleh para pemuda.

Berbagai upaya dan pemikiran di atas penting dan mendesak untuk dilakukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum terhadap para pelaku terorisme semata. Tapi, kita patut bersyukur, upaya-upaya tersebut telah dan sedang dilakukan, baik pemerintah maupun masyarakat sipil seperi tokoh agama, akademisi, pemuda, organisasi masyarakat, serta media massa. Siapa pun Anda, jika ingin masa depan bangsa ini maju dan bersatu, mari bersama cegah terorisme di kalangan anak muda.

---

Menurut Khasan Abdul Qahar dalam bukunya “kamus istilah Pengetahuan Populer”, beliau mendefenisikan kerukunan umat beragama menjadi tiga suku kata. Yaitu yang pertama adalah kerukunan merupakan serangkaian dari bagian-bagian yang tercermin dalam melaksanakan aktivitas kehidupan, kerukunan dapat tercipta di tengah masyarakat bila saling pengertian. Kesatuan masyarakat dalam melaksanakan ajaran agama dengan tidak mengganggu agama lain dalam dalam melaksanakan agamanya. Sedangkan kata kedua umat adalah para penganut suatu agama atau Nabi, misalnya umat Islam, Kristen, Buddha, hindu dan lain-lain juga berarti orang banyak (khalayak). Adapun kata yang ketiga adalah agama adalah suatu kepercayaan yang dianut oleh manusia dalam usahanya mencari hakekat dari hidupnya dan yang mengajarkan kepadanya tentang hubungan trasendentalnya dengan Tuhan.

Maka pengertian kerukunan umat beragama adaah serangkaian penganut suatu agama yang berlainan dan saling hormat menghormati antara penganut agama yang saling berbeda tersebut, dengan tidak mendapat hambatan dari penganut agama lain.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan toleransi antarumat beragama yang tinggi. Toleransi antar umat beragama inilah yang bisa dijadikan senjata untuk mencegah dan menangkal penyebaran propaganda paham radikalisme dan terorisme. Karena toleransi antar umat beragama yang tinggi, sehingga tidak ada tindakan-tindakan represif yang dilakukan kepada agama tertentu.

Radikalisme dan terorisme memang sudah menyebar luas dan menghantui Indonesia. Mereka bisa menusuk melalui berbagai cara. Ancaman radikalisme dan terorisme ini sudah semakin menglobal sehingga harus diimbangi dengan upaya-upaya maksimal dalam setiap pencegahannya. Dengan keoptimisan kita, maka kita pasti akan bisa mengusirnya dari Indonesia. Salah satu jalan terbaik yaitu memperkuat ideologi Pancasila dan memperdalam pengetahuan agama .

Terdapat cara efektif untuk mengusir jauh-jauh terorisme dan radikalisme, yaitu dengan pendekatan antara umat beragama dan menjunjung tinggi toleransi umat beragama. Dalam hal ini Fethullah Gullen seorang cendikiawan kenamaan dari Turki menulis dengan penuturan bahasa yang mengendung keselarasan universal sebagai berikut:

“Ikatan yang mempersatukan kita adalah lebih banyak ketimbang yang memisahkan kita. Kemanusiaan telah sampai kesimpang jalan, yang satu kearah putus asa, yang lain kearah keselamatan, dan semoga Allah swt memberi kita kebijaksanaan untuk mengambi; keputusan yang benar. Masa-masa untuk mencari dukungan dengan kekuatan zalim sudah usai, sebab yang patut untuk dunia yang telah tercerahkan sekarang ini adalah argumen persuasif yang meyakinkan. Orang-orang yang mengandalkan kekuatan zalim untuk mencapai tujuan, mereka adalah jiwa-jiwa yang bangkrut secara intelektual.”

Radikalisme dan terorisme merupakan beberapa pergolakan-pergolakan yang seharusnya tidak perlu terjadi di bumi pertiwi. Sikap toleransi antar umat beragama adalah salah satu yang harus kita junjung tinggi. Sekiranya terdapat perbedaan di dalam sebuah masyarakat, hendaklah kita saling mengerti dan menghargai bahwa kebebasan beragama adalah hak setiap orang yang dilindungi. Karena kerukunan umat beragama adalah juga merupakan salah satu dari pada ajaran agama.

Kerukunan umat beragama bukanlah menyatakan kesediaan bekerjasama dalam soal agamanya, akan tetapi memberikan penghargaan, ketenangan dan toleransi yang berdasarkan jiwa keharmonisan antar umat beragama. Sebagaimana yang dilaksanakan di Indonesia, dimana masing-masing pemeluk agama bebas menjalankan ajaran agamanya, selagi tiak ada paksaan kepada penganut agama lain untuk mengikuti ajaran agamanya.

Oleh karena itu, sebagai warga negara Indonesia marilah kita menjunjung tinggi toleransi antar umat beragama. Karena kita sama-sama meyakini bahwa radikalisme dan terorisme tidaklah dibenarkan di agama manapun. Satu hal yang kita buat demi kebaikan Indonesia lebih berarti dari pada tidak sama sekali. Indonesia damai tanpa radkalisme dan terorisme, junjung kuat kerukunan umat beragama.

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook