Penghasilan Driver Ojek Online "GOJEK" Hingga Rp 10 juta per bulan, Inilah Alasannya !



Sejumlah media menulis kisah yang menggugah tentang fenomena gojek, kisah ini segera menyebar dengan cepat di Sosial Media. Jika tekun menarik order, seorang tukang ojek di Gojek bisa mendapatkan income hingga Rp 10 juta per bulan.

Gosipnya, ada seorang manajer bernama Faridz Budhi Suryakusuma (34) sampai bela-belain resign dari kantor hanya untuk menjadi driver Gojek, dari situ dia dapat penghasilan rata-rata 500rb per hari, melebihi gaji dan uang lemburnya di kantor.

Gosipnya pula, rekor penghasilan driver gojek terbesar di Bandung sebesar 13 juta rupiah dipegang oleh seorang ibu-ibu.

Gosipnya pula, Anang Ma’ruf, seorang mantan pemain timnas Indonesia asal Surabaya ikut serta mendaftar menjadi driver gojek. Sebuah pencapaian yang sangat mengesankan. Terutama untuk profesi yang selama ini dianggap kelas pinggiran.

Kisah tentang Gojek adalah narasi tentang inovasi sosial, keajaiban teknologi aplikasi, dan kejeniusan ilmu “supply chain management”. Sejatinya GOJEK adalah perusahaan penyedia jasa transportasi yang berbasis pada kekuatan magis teknologi aplikasi.

Salah satu sumber inefisiensi layanan tukang ojek pangkalan adalah masa ngetem yang terlalu lama.

Dalam bahasa Malangan disebut “njjagong ngenteni penumpang” atau waktu nganggur menunggu penumbang, dalam istilah keren bahasa supply management disebut “Idle time”, atau waktu kosong yang hilang sia-sia. Itu dialami banyak para tukang ojek pangkalan di depan komplek-komplek perumahan.

Efisiensi ojek pangkalan menjadi rendah. Berapa rit yang bisa mereka dapatkan dalam 1 hari? Ternyata banyak lho para ojek pangkalan yang dalam sehari cuma bisa dapat 1 sampai 2 rit saja.

Gojek dengan kekuatan aplikasinya yang “real time” mampu memotong masa tunggu itu dengan dramatis hingga mereka gak perlu buang waktu terlalu lama di kondisi ngetem.

Ribuan calon pelanggan yang telah mendownload aplikasi Gojek yang user friendly – dibuat untuk mudah melakukan pemesanan order pengiriman (entah jasa antar orang, dokumen atau barang).

Lantas ribuan order yang terkumpul itu, di-distribusikan oleh Gojek ke ribuan armadanya, yang berada pada titik paling dekat dengan yang memberi order, secara real time, seketika. Proses ini berlangsung secara “real time” dan kontinyu.

Saat masa tunggu inventory bisa dibuat menjadi zero. Dan persis prinsip seperti itulah yang diterapkan oleh Gojek dengan kekuatan aplikasinya.

Hasilnya menjadi fantastis : seorang tukang ojek bisa mendapat income 10 juta per bulan.

Saya mengerti, beberapa di antara teman-teman pasti berkilah, “Ah, itu mungkin dulu, kang, pas gojek baru dibuka, pas drivernya belum banyak. Sekarang dengan driver yang sudah sangat banyak seperti ini, jangankan 10 juta, 3 juta juga mungkin sudah gak gampang lagi.”

Oke lah, tapi dalam pandangan saya pribadi, bukankah 3 juta itu tetap lebih baik dari UMR di Malang yang masih di kisaran 2 Juta?

Pernahkan Anda survey ke pangkalan-pangkalan ojek untuk mengetahui berapa penghasilan rata-rata pengojek pangkalan tersebut? Belum tentu lho para tukang ojeg pangkalan bisa dapat duit 50 ribu per hari. Di bawah UMR dong? Itulah realitasnya.

Namun inovasi sosial yang jenius dari Gojek ini mendapatkan tantangan dari dua kekuatan. Dan keduanya bisa menghancurkan bisnis Gojek.



Tantangan pertama adalah resistensi dari para tukang ojek pangkalan. Ini adalah potret muram dari proses inovasi teknologi : bagaimana kekuatan otak (kemudahan teknologi digital ) harus berhadapan dengan kekuatan otot yang enggan menerima proses perubahan zaman?

Dan kita tahu, pertempuran melawan kekuatan otot acap jauh lebih melelahkan dibanding harus bertarung melawan kekuatan otak.

Gosipnya, sebetulnya banyak tukang ojek pangkalan yang ingin ikut program gojek, namun mereka terkendala dengan surat-surat kendaraan yang tidak lengkap. Sudah jadi rahasia umum bahwa cukup banyak motor bodong yang dipakai untuk ngojek.

Proses inovasi teknologi memang kadang justru gagal karena masyarakatnya sendiri secara sosiologis tidak siap menerima perubahan.

Fenomena yang juga lazim terjadi dalam berbagai kisah perubahan korporat (corporate transformation process).

Status quo dan comfort zone kadang menjadi dua algojo yang acap sukses menjegal potensi kekuatan inovasi.

GOJEK VS GRAB BIKE

Tantangan kedua yang juga bisa merobohkan bisnis Gojak datang dari rival yang tak kalah menggetarkan. Yakni Grab Bike. Perusahaan yang sama dengan Gojek, namun datang dari pengusaha Malaysia. Dan dengan dukungan modal hingga 2.5 triliun.

Dengan dukungan dana nyaris tak terbatas itu, Grab Bike langsung meletuskan amunisi peperangan. Mereka segera meluncurkan “predatory pricing war” : tarif promosi ojek Grab Bike hanya Rp 5 ribu kemana saja (tarif promosi Gojek 10 ribu, dan kini sudah naik ke 15 ribu).

Grab Bike juga memberikan upah ke pengojeknya 90% dari total order, sementara Gojek hanya 80%. Grab Bike juga memberikan program berangkat umroh kepada pengojeknya yang berprestasi. Akhirnya tukang ojek juga bisa naik umroh. Bukan hanya Haji Sulam tukang bubur yang bisa.

Perlawanan keras dari Grab Bike itu segera membuat Gojek agak gentar. Perang harga yang berkepanjangan pada akhirnya bisa membuat keduanya malah bangkrut. Bisnis memang kadang brutal dan tak kenal ampun.

Kita tidak tahu apakah Gojek akan bisa mengatasi perlawanan dari dua dimensi yang berbeda itu dengan sukses (resistensi dari ojek pangkalan dan rivalitas bisnis dengan Grab Bike).

Btw, pendiri Gojek sendiri Nadiem Makarim bukan anak muda sembarangan. Pria muda Jakarta ini alumnus Harvard Business School (sekolah bisnis terbaik di muka bumi). Dengan mudah Nadiem sebenarnya bisa melamar kerja di Wall Street dengan gaji puluhan ribu dollar per bulan. Namun ia memilih pulang ke tanah airnya, demi membangun bisnis yang memberdayakan kaum kelas pinggiran. Melalui kekuatan aplikasi digital.

Jajaran manajemen dan pendiri Gojek lainnya juga diisi oleh para alumnus dari sekolah bisnis hebat seperti University of Chicago. Dan rata-rata pernah bekerja di perusahaan kelas dunia. Dari sisi kualitas, SDM yang menduduki peran kunci di Gojek sebenarnya setara dengan mutu SDM di perusaahaan top seperti Google, Microsoft ataupun IBM. Mereka secara kolektif adalah one of the best management brains di tanah air.



GOJEK VS OJEK KONVENSIONAL



Dari obrolan dengan beberapa orang teman yang tinggal di komplek perumahan yang ditongkrongin para ojek pangkalan di depan kompleksnya, juga dengan beberapa tukang ojek yang mangkal, ternyata inilah beberapa alasan kenapa ojek

1. Kalau saya ikut terdaftar di Gojek, nanti pasti bentrok dengan Ojek Pangkalan

gojek dan grabbike dilarang masukSekali bergabung dengan Gojek, maka dia nggak bisa ikutan mangkal lagi di pangkalan asalnya.

Deden, bukan nama sebenarya, salah seorang tukang ojek kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan mengakui dirinya ingin bergabung dengan Go-Jek. Tapi dia khawatir jadi nggak bisa narik penumpang di sekitar pangkalan yang anti Go-Jek.

“Sekarang saya di pangkalan sini, kalau masuk Go-Jek diomelin teman. Karena saya sendiri ikutan dan yang lain tidak. Terus kalau saya masuk ke pangkalan ojek lain, saya juga dimarahin sama mereka,” ungkap dia kepada pas coba kita ajak ngobrol, Senin (6/7/2015).

“Beda kalau setiap pangkalan sudah jadi Go-Jek semua. Saya punya rasa aman dan tidak khawatir. Semua satu identitas dengan jaket hijau walaupun tidak saling kenal,” imbuh dia.

2. Saya Gaptek, Kang…

Deden menuturkan, tidak sedikit tukang ojek pangkalan yang berusia lanjut. Terlebih saat menggunakan smart phone sebagai penunjang kerja yang utama. “Mungkin mereka seumur-umur tidak pernah punya handphone canggih. HP-nya jadul mulu. Selama ini, mereka hanya cukup SMS dan menelpon saja, tidak lebih,” tutur Deden.

“Kalau saya, bisa aja sih. Karena pasti dari Go-Jek diajarkan. Nah, kalau yang tua-tua itu, bagaimana. Mereka enggak paham,” imbuh dia.

3. Persyaratan Gabung dengan Gojek itu Ribet, Kang

Deden mengakui, dirinya sempat ikut mengantre tes sebagai driver Go-Jek. Kata dia, ia sudah mengantre sejak pagi hingga siang. Akan tetapi, saat itu, dirinya mengenakan sandal dan mendapat teguran yang tidak sedap dari manajemen Go-Jek.

“Di sini tempatnya kerja. Bukan jalan-jalan,” ungkap Deden menirukan ucapan manajemen Go-Jek karena tidak mengenakan sepatu.

Deden merasa mangkel, dan ia langsung keluar dari barisan antrean. “Saya anggap, pasti tidak lolos test. Padahal saat itu, saya tidak tahu dan baru ikut proses seleksi. Mungkin dulu pas awal-awal masuk Go-Jek gampang. Sekarang saingannya banyak dan persyaratannya makin ketat,” kata dia. Faktanya memang begitu, yang daftar gojek justru banyaknya adalah tidak berlatar belakang tukang ojek : mahasiswa, ibu rumah tangga, satpam, pegawai swasta, bahkan pegawai negeri! Dengan dukungan teknologi android, profesi tukang ojek jadi dianggap profesi yang lebih bergengsi.

4. Ketidaksiapan ikut aturan baku Go-Jek

Manajemen Go-Jek tidak sembarangan memberikan lisensi kepada seseorang yang ingin menjadi driver Go-Jek. Diantaranya prosedur wajib mengenakan jaket hijau dan helm dua. Selain itu, sepeda motor juga harus benar-benar layak pakai. Sebagai contoh, lampu sen tidak boleh rusak. Namun, dengan aturan serba detail itu, tukang ojek tradisional merasa cukup terbebani. Yang lebih parah, gosipnya, ternyata cukup banyak ojek pangkalan yang surat-suratnya tidak lengkap, ada yang STNK-nya sudah lama mati, ada yang pajaknya sudah 3 tahun tidak dibayar, ada yang nggak punya SIM, bahkan banyak juga khususnya di pedesaan yang pada pake motor bodong yang surat-suranya nggak jelas.

5. Kurangnya sosialisasi dari PT Gojek Indonesia

Sejatinya, tukang ojek tradisional ini ingin bergabung dengan Go-Jek. Akan tetapi, mereka tidak memiliki informasi yang memadai terkait Go-Jek itu sendiri. Mereka hanya tahu, Go-Jek seperti pesaing bisnis yang mengambil lapak mereka selama ini. Kalau soal ini, susah juga saya ngomentarinnya. Jaman sekarang, untuk mengakses segala informasi yang jelas, kita perlu mengakses internet dan sosial media. Jaman Facebook dan BBM semakin murah dan gampang diakses, rasanya alasan ini agak mengada-ada dech. Saya rasa ini bukan masalah sosialisasi, tapi masalah komunikasi yang ternyata sangat rumit ya. Kalau komunikasi itu mudah, buat apa ada Fakultas Ilmu Komunikasi kalee?


Saya sendiri berharap Gojek bisa berhasil dalam misinya. Mereka bertekad untuk merekrut puluhan ribu pengojek baru. Mungkin Anda berminat juga? Lumayan kan kalau dapat 10 juta per bulan daripada kerja lembur namun gaji hanya sekelas UMR?

Jika bisnis Gojek berhasil, dampak mereka dalam memberdayakan ekonomi kelas pinggiran bisa sangat mengesankan. Sekali lagi, itulah kekuatan social innovation yang berbasis pada kekuatan teknologi digital.

Selamat Datang Inovasi Digital. Semoga bisa memberikan banyak inspirasi dan memunculkan kreativitas pihak-pihak yang ada di sekitarnya, untuk hidup masyarakat Indonesia yang lebih baik.

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook