Ketika Indonesia Menuju Suriah (negara konflik) dari Moment Pilkada DKI

Terorisme

Seorang teman bertanya, "Apa ada grand design di balik peristiwa pilkada DKI?. "Ada", kata saya.

Berikut analisa saya :

Sejak 2011 saya mengamati pola awal perang Suriah, bagaimana model mereka dalam memerangi pemerintahan yang sah dengan konsep pembentukan pemerintahan Islam atau khilafah.

Tujuan mereka tetap sama, hanya modelnya saja yang berbeda, disesuaikan dengan situasi dan kondisinya. Sebelum pilgub DKI, modelnya hampir sama dengan Suriah. Mereka membawa isu Syiah dengan membentuk jaringan aliansi nasional anti Syiah atau ANNAS dimana-mana. Kata "Syiah" dibangun sebagai stigma supaya mirip dengan stigma PKI, sebagai aliran yang berbahaya.

Dengan stigma syiah ini, mereka akan menghantam banyak ulama NU dengan tudingan Syiah, supaya bisa menguasainya. Dan ketika mereka menguasai NU, seperti mereka menguasai MUI, maka mereka akan membenturkannya kemana-mana.

Pola ini mirip dengan yang terjadi di Suriah, dimana Bashar Assad dituding Syiah dan para ulama terbagi 2, yang pro dan yang kontra pada Bashar. Syaikh Ramadhan Al Bouti adalah ulama sunni yang pro Bashar dan meninggal akibat bom bunuh diri saat beliau ceramah di masjid.

Pernah terjadi seorang yang dianggap ulama di Indonesia menyerukan kata "jihad" kepada Syiah. Tetapi karena terlalu prematur, maka seruan itu tidak berdampak apapun. Hanya saja sekarang isu Syiah kurang laku, maka mereka mencari model lain yang lebih memungkinkan. Yaitu, membenturkan Islam dan Kristen.

Mereka menemukan momennya saat Pilkada DKI. Kebencian terhadap Ahok sebenarnya lebih diarahkan pada kebencian sektarian, yaitu Cina dan Kristen. Sosok Ahok hanya sebagai model saja, bukan tujuan utama.

Momen utama mereka dapatkan ketika Ahok berbicara tentang Al Maidah. Penyebaran potongan video yang sudah diedit kemana-mana dengan narasi kebencian pada judulnya, adalah bagian dari strategi mereka. Ahok menjadi musuh utama, tapi sebenarnya yang ditarget adalah Cina dan Kristen.

Masalah ini menjadi lebar, dengan sebuah tuntutan bahwa Ahok harus mundur dari pencalonan Gubernur DKI. Mereka menyiapkan booby trap disana, sebuah jebakan yang -menurut mereka- pasti akan dimakan, apapun pilihannya.

Jika Ahok tetap mencalonkan diri menjadi Gubernur, maka mereka akan terus menekan dengan demo yang lebih besar dan serangan melalui media sosial yang lebih massif. Perhatikan saja, di beberapa daerah seperti Medan, ada tuntutan supaya Ahok mundur, padahal Medan tidak ada urusannya dengan Jakarta.

Mereka ini mempunyai jaringan "ulama internasional", yang tergabung dalam satu organisasi. Ulama-ulama internasional itu sudah mem-fatwakan bahwa Ahok harus diadili karena menghina Islam. Yang ini persis seperti Suriah, dimana Bashar Assad di-fatwakan harus diperangi oleh "ulama2 internasional" yang ditentang oleh ulama-ulama lokal yang pro pada pemerintahan yang sah.

Ulama lokal yang kontra pada pemerintah, sibuk berfatwa bahwa penduduk Suriah yang muslim harus mengikuti fatwa ulama mereka. Posisi ulama ditempatkan pada posisi tertinggi, dengan doktrin bahwa jika tidak mengikuti ulama versi mereka divonis kafir, anti Islam dan musuh bersama. Persis disini, dimana muslim moderat dihantam terus dengan tekanan dan ancaman, termasuk membunuh karakter mereka.

Isu-isu akan terus ditebar untuk menghabisi karakter Ahok dan memaksanya mundur dari pencalonan. Muslim yang awam akan termakan isu "dikuasai Cina", "Kristen akan mendominasi" dan sebagainya.

"Memang kalau Ahok mundur kenapa? Apakah berbahaya?"

Justru sangat berbahaya, dan disinilah sebenarnya titik pointnya.

Mundurnya Ahok dengan sadar atau karena tekanan, akan menimbulkan riak baru di daerah yang di dominasi agama Kristen. Mereka akan merasa terpinggirkan dan dianggap tidak memiliki Indonesia.

Wilayah Timur seperti Papua akan menuntut bahwa sudah terjadi diskriminasi dalam demokrasi Indonesia. Tekanan kepada muslim yang minoritas disana akan semakin besar dan tumbuhlah kebencian. Tekanan kepada mereka yang minoritas muslim, akan membawa kebencian baru kepada muslim mayoritas di seluruh nusantara.

Ada satu momen -mungkin- tempat ibadah akan di bom, pemuka agamanya meninggal, sebagai justifikasi bahwa kebencian antar 2 agama sudah menuncak. Dan diharapkan peristiwa Ambon dan Poso jilid 2 terulang.

Ingat kasus Santoso? Tiba-tiba dia yang sudah teridentifikasi teroris, diangkat dan dibangun citranya menjadi syuhada oleh media sosial. Mereka sedang menggali keluar kembali peristiwa Poso, supaya timbul kebencian pada 2 agama, Islam dan Kristen.

Dan ketika satu wilayah perang karena agama, wilayah lain diharapkan akan terdampak juga. Persis seperti Suriah, peristiwa ini di mulai dari daerah perbatasan yang jauh dari ibukota, meski pusat isu dari ibukota. Peristiwa yang mengancam disintegrasi ini juga akan menyeret ke pemerintahan Jokowi. Jokowi dianggap tidak siap dan lemah. Dan suara-suara lokal maupun internasional dari ormas-ormas dan LSM bayaran, akan bermunculan berteriak bahwa Jokowi dan aparat melanggar HAM.

Dan kembali "ulama internasional" itu bertindak dan memberi fatwa. Situasi buruk ini saja sudah memberi pengaruh pada ekonomi Indonesia. Investasi asing berhenti dan uang lari ke negara lain, menyebabkan rupiah jatuh. Ekonomi kita akan berada pada titik dasar, yang membuat rakyat susah.

Dan tebak apa yang akan terjadi?

Demonstrasi dimana-mana menyuruh Jokowi turun dari jabatan dan diharapkan akan terjadi peristiwa Mei 98. Elemen buruh akan turun dengan kekuatan besar karena pabrik-pabrik tutup tidak bisa membayar mereka sebab dollar sedang tinggi-tingginya, mereka tidak bisa membeli bahan yang harus di impor.

Selebihnya.. Kita bisa melihat nasib Suriah.

Baca : Daftar "Prestasi" FPI untuk Indonesia ! (Kekerasan, Pengrusakan, Kerusuhan, Melawan TNI/Polri, Kekacauan, Penghinaan kepada Negara atas nama Islam)

"Lalu mengapa aparat diam saja ketika ormas-ormas itu terlihat radikal?".

Jokowi tidak ingin mengulang apa yang dilakukan Bashar Assad dengan melakukan tindakan represif, karena memang itu yang diinginkan oleh kelompok-kelompok ini.

Ketika pemerintah bertindak keras, maka mereka akan bermain sebagai korban atau playing victim. Apalagi ketika terjadi bentrokan di daerah perbatasan dan ada pembunuhan dimana-mana, ketika aparat bertindak keras dengan menembaki pelaku kerusuhan, maka mereka akan dengan sangat mudah memutar-balik fakta bahwa Jokowi membunuh rakyat tidak berdosa melalui gambar dan youtube yang menjadi viral dunia.

Persis seperti situasi awal saat Bashar Assad di fatwa melakukan kejahatan kemanusiaan, dan masuknya pasukan internasional.

"Duh, apa mungkin bisa sebesar itu skalanya?".

Lihat Suriah.. Dulu mereka seperti kita. Sedang santai atau bekerja seperti biasa, dan -bummmm- semua berbalik arah. "Siapa kira-kira dibalik itu semua?".

Banyak. Mulai dari negara tetangga yang sedang gamang karena Indonesia berpotensi memimpin Asean dan kekuatan besar untuk mengambil alih sumber daya alam Indonesia dengan bersembunyi dibalik topeng mendirikan negara Islam.

Mereka akan memanfaatkan tenaga kita sendiri untuk bertarung sesama saudara. Dan mereka akan mempersiapkan seseorang yang bisa mereka kontrol sebagai boneka.

Tugas kita sekarang menjaga rapat barisan supaya tidak terprovokasi dengan isu-isu murahan. Perbanyak dialog dan pertemuan lintas agama, karena persatuan kita umat beragama akan sangat menyakitkan hati mereka.

Sebarkan pesan-pesan damai dan didiklah orang di sekitar kta untuk saling menghargai dan tidak radikal. Umat Kristen akan sangat dicoba disini, dengan tetap memperlihatkan bahwa ketika mereka mayoritas di wilayahnya, mereka akan menjaga muslim yang minoritas supaya tetap aman, seperti ketika NU dengan bansernya menjaga mereka.

Percayakan semua pada pemerintah, bahwa apa yang mereka lakukan adalah menjaga konstitusi tetap terjaga. Dan perusuh akan ditindak sebagai kriminal bukan karena masalah sektarian.

Semoga kita bisa terus ngopi dalam situasi damai yang kita pertahankan dan perjuangkan. Karena memperjuangkan situasi sekarang yang damai sama dengan membel negara dan disanalah hukum jihad terlaksana.

Temanku Bertanya : "Apakah analisamu valid?".

Semoga tidak, karena jika valid saya malah ngeri membayangkan apa yang terjadi nantinya.

NKRI Harga Mati dan tetaplah waspada..

Baca : Bedah Kasus AHOK "Al-Maidah" Lengkap ! Sebarkan !

Sebarkan ! Share Artikel ini !

Share on Google Plus

Tentang Rey Arifin

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia, Pendiri & Ketua Komunitas Blogger Indonesia, Pendiri & Penyiar Radio Kepanjen FM.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.
    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Google

0 komentar:

Poskan Komentar

    Sampaikan Komentar Anda dengan Akun Facebook