Kamis, 06 April 2017

Zakir Naik, Warga Asing (Non Pribumi) yang Dipersilahkan Menjajah Bangsa ini oleh Kaum Sumbu Pendek

Tags



Saya memang pro dan mendukung pemerintah yang dipimpin oleh Bapak Presiden Joko Widodo, mendukung pemerintahan yang resmi dan dipilih secara demokratis, mendukung pokok-pokok fikiran dan ide-ide cemerlangnya untuk Indonesia yang lebih maju, damai dan sejahtera. Dan tentu juga akan mengkritik kebijakannya yang saya anggap tidak memihak kepada rakyat, karena itu juga adalah bentuk dukungan dalam konsep demokrasi. (Baca : "Zakir Naik juga Munafik, Kutip-Kutip Injil Tetapi Tidak Masuk Kristen," ungkapan cerdas Ahmad Zainul Muttaqin (Tokoh Pluralis))

Pesoalannya, bagaimana anda bisa memahami saya kalau anda belum duduk kokoh tentang paham Negara Pancasila ini? Bagaimana anda paham dengan Negara demokratis kalau anda masih hidup dalam pola fikir dan pemahaman bangsa lain, yang tidak menganut paham demokrasi yang baik? Oke, mungkin saya salah, salah karena bahkan kelakuan andapun tidak merefresentasikan karakter dari bangsa yang anda sebut-sebut dan idolakan itu. Berarti anda siapa sebenarnya?

Zakir Naik, seolah-olah hari ini menjadi dewa kebenaran bagi kaum-kaum sumbu pendek negeri ini, mereka merasa terpuaskan atas ekspektasi mereka tentang agama dan politik. Mereka menutup mata atas semua kasus Zakir Naik di Negaranya sendiri dan dibeberapa Negara lain yang didominasi oleh penduduk umat muslim, tentu karena dianggap bisa merusak tatanan Nasionalnya, bahkan mengganggu ketertiban masyarakatnya, katakanlah seperti di Malaysia yang saat ini sedang berjalan gugatan atas nama Zakir Naik agar dilarang masuk ke Negara tersebut, hal ini karena dia dianggap sebagai perusak ketertiban di berbagai sektor, termasuk juga karena diduga mendukung ISIS.

Indonesia, adalah Negara yang sangat toleran, setidaknya itulah citra Indonesia yang tercipta dimata dunia. Kita memiliki umat Islam yang berfikir terbuka, yang bahkan umat Islam di Negara lain tidak memahaminya, mereka sering terheran-heran dan geleng-geleng kepala melihat tingginya tingkat toleransi di Negara kita ini.

Untuk sampai ke tahap ini, Indonesia memang telah melalui tahapan-tahapan yang berat, dan beruntungnya, para pendahulu bangsa ini berhasil meletakkan pondasi bangsa yang kuat dan kokoh. Kita berhasil melalui pergolakan itu, akan tetapi, kalau ada yang masih tersisa, itu soal lain, karena adanya provokasi dari orang-orang yang tidak memahami kita, terlebih akibat masih adanya orang-orang kita yang belum selesai dengan keimannya. Contohnya, ingin berkuasa karena menganggap bahwa kekuasaan hanyalah hak kaum yang berpola fikir minoritas-mayoritas.

Provokasi seperti apa yang kita hadapi hari ini, gambaran lebih jelasnya ada di Pilkada DKI Jakarta. Silahkan memberi kesimpulan sendiri, walaupun saya pribadi sangat optimis bahwa kita akan berhasil melewatinya dengan benteng utama Pancasila.

Beberapa hari yang lalu, tepat tanggal 24 Maret 2017, saat berada di Kota Barus dalam rangkaian acara peresmian Tugu Titik Nol Islam Nusantara, Presiden Joko Widodo berpesan kepada sengenap masyarakat Indonesia agar agama dipisahkan dari urusan politik, ditegaskan juga bahwa kita Indonesia, yang beragam suku dan beragam agama, karena itu urusan politik jangan dicampur aduk dengan agama.

Kemudian, Zakir Naik, menurut saya secara tidak langsung menyangkal pernyataan Bapak Joko Widodo dengan menyatakan bahwa agama Islam dan politik adalah bagian yang tidak terpisahkan. Menurutnya, Islam adalah way of life, termasuk dalam hal urusan politik.

Pertanyaannya adalah, tau apa Zakir Naik tentang kita Indonesia? Lalu, apa dasarnya dia ini mengkritik pernyataan Presiden Joko Widodo kalau tidak paham Indonesia? Tidak paham keberagaman kita?

Saya memang tidak begitu paham soal agama Islam, akan tetapi, saya yakin, sebuah ajaran pasti juga disertai dengan latar belakang historis, tempat dan waktu kapan sebuah injil diturunkan kepada umat yang memeluk agama tersebut pada awalnya. Semua agama pasti begitu, artinya tidak serta merta menafikkan waktu dan tempat maupun historis dibalik lahirnya ayat tersebut, kalau tanpa itu, injil akan kosong dan hanya redaksi semata, hal ini jugalah yang melatari adanya tafsir injil.

Itulah mengapa saya berpendapat bahwa Zakir Naik tidak pantas mengkritik Bapak Joko Widodo, apalagi dia mengatakan bahwa banyak pemimpin sekarang tidak mengimplementasikan ajaran Al-Quran dan sunah, dia memperbandingkan kejadian sekarang di Indonesia dengan apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dijamannya. Serius? Kedua jaman ini bisa dipersamakan?

Kesalahan Zakir Naik dalam kritiknya tidak lain karena ketidak tahuannya tentang Indonesia, dia mungkin masih hidup dalam bayang-bayang kehidupan ribuan tahun yang lalu, atau bayang-bayang Negara lain.

Lantas... Apa hak seorang buronan di Negaranya dan diboikot di beberapa Negara Islam lainnya untuk mengkritik Presiden Indonesia? Apa motif dan tujuannya? Mungkin dia ingin Negara kita antah berantah dan ribut memperebutkan surga dengan kebenarannya sendiri.

Pernyataan Presiden Joko Widodo tentang pemisahan agama dan politik saya fikir adalah sangat tepat dan memiliki makna filosofis yang dalam, mengingat bangsa kita yang sangat beragam suku, budaya dan agama. Kita kaya sekali dengan keberagaman, hal ini akan kacau jika dicampur aduk dengan agenda demokrasi yang setiap lima tahun sekali kita laksanakan, sungguh berbahaya sekali untuk kemajuan bangsa jika kita tetap mencampur aduknya dengan agama. Artinya, setiap lima tahun sekali kita akan berkonflik dan stagnan dalam perdebatan soal perbedaan pilihan, sehingga agenda untuk mensejahterakan dan memajukan bangsa akan lupa atau tepatnya terhambat hanya karena pola fikir yang tidak selesai antara agama dan politik.

Tau apa Zakir Naik soal Indonesia? Sehingga dia berani menyela perkataan Jokowi untuk memisahkan agama dan politik? Dia tidak mengenal Indonesia, karena dia sendiri tidak mengenal Negaranya, dia anti keberagaman suku, budaya dan agama. Diapun tidak sadar kalau keberagaman ini adalah anugrah dari Tuhan yang harus kita pelihara, dihargai dan diterima dengah hati dan fikiran terbuka, bukan malah dijadikan sebagai pertentangan.

Kita, Indonesia memahami bahwa anti keberagaman juga adalah anti kepada Tuhan.

Satu hal yang pasti, bahwa Pak Joko Widodo adalah orang yang paling paham soal Indonesia, dia tidak mungkin berkata demikian tanpa pemahaman dan pengenalan mendalam tentang agamanya sendiri, terlebih karena dia merupakan pemimpin bangsa ini, sebagai simbol Negara.

Jika dikatakan karena takut kehilangan kedudukan seperti apa yang dikatakan Zakir Naik, mungkin Zakir Naik perlu berfikir ulang, bahwa sebenarnya dialah yang ketakutan kehilangan tempat di Negara lain setelah kehilangan tempat di Negaranya sendiri.

Rey Arifin (Arizal Firmansyah) adalah Seorang Blogger dan Praktisi IT, Multimedia, Broadcasting, & Media Online. Juga Pendiri & Pengelola RIZALmedia dan Komunitas Blogger Indonesia.
Baca : Profil Lengkap Rey Arifin. Hubungi : Kontak Rey Arifin.


EmoticonEmoticon